PARADISE ON EARTH: RAJA AMPAT

Wayag Peak 1

“Paradise on Earth!”

Yak, itu yang terlintas di kepala gue ketika mendengar “Raja Ampat”. Dan itu juga yang menjadi alasan untuk membuka tahun 2014 di Raja Ampat. Yeah!

Banyak orang menyebut Raja Ampat sebagai “Hidden Paradise”, gue sih lebih suka menyebut ini sebagai “Paradise on Earth” aja. Simpel, sesungguhnya Raja Ampat sudah sangat terkenal di dunia, ga perlu ada yang di-hidden-hidden lagi. :)

TRANSIT MAKASSAR

Lirik indah ‘Paradise’ milik Coldplay mengiringi penerbangan gue ke Makassar dari Jakarta. Tiba pukul 08.30 WITA di Sultan Hasanuddin, Makassar. Gue seharusnya melanjutkan penerbangan ke Sorong pukul 10:00 WITA menumpang Merpati MZ806. Namun, unschedule breakdown yang dialami maskapai BUMN tersebut membuat penerbangan ini dibatalkan. Penerbangan ke Sorong pun diganti menggunakan Express Air esok dini harinya pukul 03:00 WITA.

Makassar Jan 2014

Ada sekitar 14 jam lagi sebelum penerbangan ke Sorong, gue pun dijemput dan diajak jalan-jalan di kota Makassar oleh rekan seperusahaan yang berada di sana. Mulai dari icon Makassar yaitu Pantai Losari dan Benteng Fort Rotterdam, sampai menikmati kuliner sore bernama Pisang Epe yang dilanjutkan Pallubasa Serigala dengan telur 1/2 matang yang jossss banget. Tips makan enak dan kenyang di Makassar: pesen dua! Haha. Setelah itu kami kongkow di Kampung Popsa sambil menghabiskan waktu hingga tengah malam.

ENTRANCE RAJA AMPAT

Begitu mendarat di Bandara DEO Sorong, langsung dilanjut perjalanan darat selama 20 menit menuju pelabuhan perikanan di Sorong, tempat yang menjadi gerbang masuk kami ke Kabupaten Raja Ampat saat itu. Untuk memasuki wilayah Kabupaten Raja Ampat, wisatawan wajib membayar Pin Entrance Raja Ampat senilai total Rp250K. Pin ini berlaku selama setahun.

Pin Raja Ampat

Gue saranin kalo ngetrip ke Raja Ampat itu rame-rame. Karena meskipun lo berangkat hanya dengan grup kecil semisal 4 orang, lo tetep butuh menyewa boat gede berkapasitas minimal 10 orang untuk ‘menebas’ ombak super deras. Unless, lo ga nemu temen ngetrip, ato cukup tajir untuk membeli fasilitas itu, lakuin aja.. Ehehhe, becanda. Bermodal engine 2 x 250 HP, ini boat yang kami gunakan selama 4 hari ke depan.

Boat 2 x 250pk

Mioskun, sebuah pulau kecil yang hanya dihuni 1 keluarga ini menjadi pembuka trip Raja Ampat. Adapun papan bertuliskan tarif itu jangan terlalu dianggap serius ;)

Mioskun

Perjalanan menyusuri ‘halaman depan’ surga Indonesia ini diiringi decak kagum tanpa henti. Mulai dari menikmati indahnya terumbu karang di Friwen Bonda, menyusuri bongkahan bukit karst mini di Teluk Kabui, hingga bersantai di Pasir timbul Bianci.

WAYAG

Hari pertama kami bermalam di pulau Wayag. Menghabiskan sore hingga terbenamnya matahari. Selama gue liburan ke manapun, mana ada Maghrib-maghrib masih berendem di pantai sampe gelap. Tapi kalo di Pulau Wayag, hal ini sangat sayang kalo dilewatkan.

Sunset di Wayag

Beberapa minggu sebelumnya, pulau Wayag sempat dilarang dikunjungi, begitupun area bukit karst yang tidak boleh dimasuki. Masih terpampang jelas palang blokir dari Masyarakat Suku Kawe yang belum dicopot. Konon, masyarakat tidak terima atas tak jelasnya pembagian hak atas fee Pin Entrance dari pemerintah.

Pulau Wayag

Di Pulau Wayag, lo wajib berhati-hatilah saat snorkeling atau bermain di pesisir pantai, hindari kontak fisik dengan hiu yang sering seliweran. Hiu berjenis Blacktip Reef ini memang sering berkunjung secara berkelompok ke pesisir hingga sedekat ini.

Hiu Blacktip di Pantai Wayag

MENDAKI BUKIT KARST

Kepulauan Wayag adalah ‘maincourse’ dari segambreng menu maknyus yang disajikan Raja Ampat. Memasuki kepulauan Wayag lo bakal terpukau laut biru dengan topping bukit-bukit karst berbagai ukuran yang selalu berada di sekeliling lo. Seakan berada di serpihan surga yang jatuh ke Bumi.

Di bawah Puncak Wayag I

Inilah view dari puncak Wayag I:

Puncak Wayag I

Kalo ini dari Wayag II:

Puncak Wayag II

Butuh usaha maha berat buat menikmati saripati alam bernama Wayag. Mendaki bukit karst yang dipenuhi karang-karang tajam, sejauh +/- 100 meter dengan kemiringan hingga 80 derajat. Gue sengaja ga nampilin foto perjalanannya supaya lo surprise ketika menjalani sendiri. Selain itu, karena susah ambil fotonya juga sih sambil manjat, bahaya juga :)

Wayag I dan II

YENWAUPNOR

Malam kedua kami menginap di Yenwaupnor, sebuah kampung wisata di daerah Arborek. Penginapan yang dikelola oleh Ibu Maria dan suaminya ini menawarkan suasana pantai yang nyaman. Selain itu, ikan goreng bikinan Ibu Maria ini ga ada tandingannya, enak banget!

Yenwaupnor

Gue bukan orang yang suka bangun pagi, apalagi pas lagi liburan. Cuma ya surise secantik ini masa iya mau dilewatkan? Ini ceritanya pohon Natal keluarga Ibu Maria yang belum sempat dicabut. Unik dan lucu, hiasannya dari kerang-kerang gitu :)

IMG_4970

LET’S GO DEEP

Hari ke-3, pagi-pagi kami bertolak menuju Pulau Mensoar, tepatnya ke Raja Ampat Dive Lodge, sebuah dive center sekaligus resort. Selama perjalanan ke sana, kami sempatkan snorkeling di Sawindarek, menikmati kultur Papua di Arborek dan Yenbuba.

Tarif menyelam dengan Raja Ampat Dive Lodge cukup menguras kocek. 1 titik penyelaman dihargai USD 60, dive gear (exclude dive comp) USD 35/hari, dive comp USD 15/hari, dan kalo belum punya snorkle-mask-fins harganya USD 9/hari. Lumayan kan? :)

Raja Ampat Dive Lodge

Prinsip gue sih, “nyari duit udah pusing bro, kalo ngabisinnya harus mikir juga, kapan hepinya?” :)

Hari itu gue menyelam di 2 titik, yaitu Manta Traffic dan Sardine Reef. Manta Traffic ini semacam tempat lalu-lintasnya Manta Ray. Dalam waktu 30 menit, ada kali sampe 10 kali Manta Ray melewati tempat ini. Di tempat ini mereka membersihkan diri.  Jadi gue nyelem di toilet mereka dong..? :))

IMG_5198

Ketika lo menyelam: “Take nothing but photos, leave nothing but bubbles.”

Manta Ray ini cool banget, ‘melayang’ dengan anggun di lautan. Manta paling gede yang gue liat panjangnya mungkin hingga 6 meter. Kalo aja Aladdin itu anaknya Poseidon, pasti doi lebih milih naik Manta daripada karpet terbangnya :)

selfnote: Manta ini sifatnya pemalu, jadi kalo mau liat jangan deket-deket, apalagi menyentuh badannya.

PULANG

Pagi di pagi ke-4 judulnya perjalanan perjalanan pulang. Sebelum menuju Sorong kembali, kami sempatkan mampir di Pulau Koh, sebuah pulau cantik dengan hamparan pasir putih yang timbul di tengah hamparan air laut super bening. Disempatkan pula bersantai di Pulau Waiwo yang pantainya dipenuhi ikan-ikan. Seorang anak kecil yang memancing di sini tidak perlu umpan, cukup mata kail dalam waktu singkat ada ikan yang tertangkap.

IMG_5508s

Pengalaman mengunjungi Raja Ampat super duper awesome… Lo harus sempat ke Raja Ampat seenggaknya sekali seumur hidup lo. Witness something magnificent before you die.

Dan ini menjadi pengalaman membanggakan buat gue. ‘Sense of belonging’ atas Raja Ampat kental terasa, hal ini yang ga bakal lo rasain ketika mengunjungi tempat-tempat keren lainnya di luar Nusantara. Luar biasa, Tuhan menitipkan Raja Ampat kepada Indonesia. Bersyukurlah.

IMG_5182

Gue yakin, Tuhan ‘merilis’ beberapa ‘teaser’ Surga Ilahi di bumi. Dan bagi gue, Raja Ampat adalah ‘teaser’ paling nyata yang membuat fantasi kita semakin tidak bisa menjangkau keindahan surga yang sesungguhnya. Hal ini seharusnya memicu kita untuk selalu berbuat baik, rajin beribadah, dan terus berdoa agar mendapatkan sebenar-benarnya surga milik-Nya.

IMG_4641

Tidak secara harfiah. Tapi memang travelers selalu mencari dan mendatangi ‘surga-surga’ di dunia.

Posted in TRAVELING | Tagged , , , , , | 1 Comment

HOLIDAY RUSH: 1 MINGGU, 4 KOTA (part 2)

Awalnya ga ada rencana traveling di Sumatera Barat, tujuan gue setelah Medan adalah pulang kampung ke Bengkulu. Karena ga ada transportasi udara langsung, maka transitlah gue di sini. Jujur, 25 tahun gue hidup di Indonesia, 15 tahun di antaranya tinggal di Bengkulu, belum sekalipun gue berkunjung ke propinsi yang menjadi batas langsung dari tanah kelahiran gue. Bolehlah satu/dua hari gue habiskan di Ranah Minang.

TRANSIT PADANG

Landed!! Mendaratlah gue di Bandara Minangkabau. Tempat ini mirip RM Sederhana, tapi parkirannya pesawat semua gitu.

IMG_1276gambar dipinjam dari: sini.

Tempat yang gue tuju adalah Bukittinggi, kota kelahiran Bung Hatta ini dikenal menyimpan ambience luar biasa sebagai kota perbukitan. Ditambah pula, tempat yang saat Agresi Militer Belanda II sempat menjadi Ibukota Indonesia ini juga dikenal memiliki rasa asli berbagai masakan Padang yang terkenal di penjuru Bumi.

Perjalanan dari Bandara Minangkabau ada 2 opsi: naik travel atau taksi. Biaya travel sekitar Rp50-60ribuan, mobilnya Avanza atau APV, plat hitam, berangkatnya nunggu penuh. Mata yang masih lelah setelah penerbangan super pagi dari Medan membuat gue memilih taksi. Ongkos normalnya Rp222ribu, cuma karena lagi sepi penumpang dan jumlah supir taksi yang nawarin banyak, jadilah gue deal pada pemberi penawaran termurah, ehehe. Berangkatlah gue Bukittinggi dengan sebuah taksi sedan plat kuning bermodal Rp150ribu sahaja.

Di tengah perjalanan, gue mampir di RM Kiambang Raya untuk sarapan. Katupek Gulai Paku menjadi menu sarapan andalan di sana. Tanaman paku yang diolah dengan gulai santan lalu disajikan dengan ketupat dan kerupuk merah ini gurih sekali rasanya. Dimakan pagi-pagi ditemani teh hangat dan pemandangan persawahan yang bikin hati adem. ‘Zen’ banget gitulah rasanya. Sarapan *mewah ini bisa loe beli dengan Rp11ribu aja. *ket: mepet sawah.

IMG_2562Setelah ± 1 jam perjalanan gue pun sampai di Bukittinggi. Begitu turun dari taksi, hawa dingin khas pegunungan langsung menggigit kulit, padahal sudah mau siang. Gue menginap di Royal Denai View Hotel. Lokasinya persis di seberang Benteng Fort De Kock.
mungkin karena nyamannya kamar dan hawanya nenangin banget, siang itu gue tertidur hingga sore.

Menjelang maghrib gue berjalan melewati Kampung Cina menuju pelataran Jam Gadang. Jam Gadang yang merupakan landmark kota Bukittinggi ini menyimpan fakta unik. Angka empat pada ejaan Romawi harusnya ditulis ‘IV’, namun pada jam di bangunan yang merupakan hadiah Ratu Belanda ini ditulis menjadi ‘IIII’. Dulu saat penjajahan Belanda, atap Jam Gadang berbentuk patung ayam jantan, dan ketika Jepang datang diubah menjadi kelenteng sebelum akhirnya pribumi menggantinya dengan atap gaya khas Minangkabau.

IMG_2643

Pelataran Jam Gadang itu pusatnya kudapan malam di Bukittinggi. Rasanya enak, khas, dan harganya murah. Ada Opak Bumbu Sate (Rp3ribu), Pisang Kapik (Rp3ribu), Sate Padang tentunya (Rp12ribu), dan favorit gue: Pisang Panggang Basantan (Rp6ribu). Sayang, saat itu gue gagal menemukan Puluik Durian.

IMG_2661

Sembari mengeksplorasi kuliner Bukittinggi, randomly gue menaiki odong-odong. Bermodal Rp5ribu rupiah odong-odong ini ternyata membawa lo dan anak-anak kecil lainnya mengitari spot-spot icon wisata di Bukittinggi selama ± 40 menit. Lumayan kan? tak terduga.

IMG_2641

Pagi hari adalah saat dimana Bukittinggi membuktikan dirinya sebagai salah satu Surganya Indonesia. Ambience-nya superb banget! Bukittinggi sightseeing pagi ini gue lakukan sambil jogging. Diawali dengan mengunjungi Benteng Fort De Kock, lalu ke Jam Gadang menikmati Teh Talua, dilanjutkan memasuki Lobang Jepang, dan turun ke lembah menikmati indahnya Ngarai Sianok. Super banget men! Kawan-kawan pelari maraton kelas menengah Jakarta perlu mencoba lintasan ini, ehehe. Jogging pagi ditutup dengan menikmati sarapan Pical Sikai :9

IMG_2798

Bukittinggi ini adalah pusatnya menu asli masakan Padang yang tersebar di penjuru bumi. Belum lengkap rasanya ke Bukittinggi kalau belum menikmati makanan-makanan ini:

IMG_2717

  1. GULAI ITIAK LADO MUDO. Lokasinya di Ngarai Sianok. Tekstur daging itiknya lembut banget, dicubut dikit dagingnya lepas semua. Tapi paling pol sambel ijonya itu men… sensasi pedes-asinnya bikin lidah terkulai lemas. Foodgasm.
  2. NASI KAPAU. Lokasinya di Pasar Lereng, dekat pelataran Jam Gadang. Menunya banyak banget, dari ayam, ikan, rendang, dan semua bagian tubuh sapi kayaknya ada, ehehe. Rasanya dominan asam dan pedas selayaknya masakan minang, namun lebih asin dari biasanya.
  3. AYAM POP RM Family Benteng. Lokasinya di dekat pintu masuk Benteng Fort De Kock. Rasa ayam pop-nya sama seperti menu sejenis di RM Padang kebanyakan. Yang bikin beda, tempat ini dipercaya sebagai ‘pioneer’ menu Ayam Pop yang populer itu. Jadi, gue mencicipi Ayam Pop dari tempat masakan ini dilahirkan, gue merasakan di sini sejarah meeen :D

Karena judulnya cuma transit, sore di hari ke-2 di Bukittinggi gue putuskan untuk memulai perjalanan ke kota kelahiran, Bengkulu.

Bukittinggi adalah kota yang sejuk dan tentram. Tempat paling bener versi gue buat menikmati masa pensiun nanti.

PULANG KAMPUNG: BENGKULU

Perjalanan dari Bukittinggi ke Bengkulu gue lalui selama ± 11 jam. Perjalanan darat yang cukup jauh namun menarik karena melewati Danau Singkarak yang terkenal itu.

Sesampainya di Bengkulu, gue langsung disambut si VW 1200 ’74  yang sudah kinclong menawan.

IMG_2786

Mesin waktu, berada di dalamnya bikin inget waktu kecil sering malu tiap kali diantar ke sekolah olehnya. Pasti minta diturunin jauh-jauh karena suka jadi bahan ejekan bocah lainnya. Sekarang, justru ga mau jauh-jauh dari si Putih ini. Kini, doi bersama ‘sanak saudara serahimnya’ mendirikan komunitas bernama VOLKSWAGEN CLUB BENCOOLEN. *Bencoolen: Nama Bengkulu di masa panjajahan Belanda.

Gue pun semakin antusias berada di rumah karena saat itu juga gue melihat ijo-ijo seger terparkir di garasi, bukan cendol kaskus tentunya. Adalah VW Safari ’76 yang diakuisisi Bokap dari salah satu anggota klub VW-nya itu. Bokap sumringah banget, karena hari itu adalah hari dimana si ijo mendengungkan kembali suara mesinnya setelah ‘astral’ berbulan-bulan.

IMG_2785

Bengkulu ini kota yang menurut gue cukup selaaaaw.. Suana santai terasa dari sekolahan sampai kantor-kantor pemerintahan, #eh. Suasana santai ini jelas terbawa karena Bengkulu dipagari pantai barat Sumatera yang disebut Pantai Panjang. Mungkin itu sebab-musababnya orang Bengkulu santainya berkepanjangan sampe sekarang. Btw, Pantai Panjang ini cakep lho, endless…

IMG_4465

Gue habiskan sisa fieldbreak gue di rumah. Hari-hari dimana gue bisa santai menikmati suasana dan masakan rumahan. Meledek Bokap & Nyokap yang mulai ubanan. Juga nasihat-nasihat mereka yang gue rindukan. Berangkat bareng Bokap ke Jumatan, juga berjamaah bertiga saat Maghriban.

“Bokap & Nyokap love to feel needed. So, letting them take care of me is how I’m taking care of them :)”

rumah bengkulu sPokoknya, semewah-mewahnya hotel bintang lima, ga akan bisa mengalahkan ‘kemewahan’ yang ditawarkan rumah ini buat gue. Mungkin itulah yang dirasakan Ian Antono saat menciptakan lagu ‘Rumah Kita’. *betah*

Rasanya cukup deh jalan-jalan berjudul Holiday Rush kali ini. Saatnya kembali mengumpulkan pundi-pundi demi kelangsungan hidup anak-istri (nanti) :D

Posted in TRAVELING | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

HOLIDAY RUSH: 1 MINGGU, 4 KOTA (part 1)

IMG_2050Dats o wrap! Saatnya backpacking lagi..!

Field break yang ke-3 tahun ini diisi liburan yang kalo gue bilang sih, serba terburu-buru. Mulai dari Kuala Lumpur, Medan, Padang, hingga Bengkulu, semua dilewati dalam waktu seminggu. Kok bisa? Haha.

Sebenernya destinasi utama di field break kali ini adalah kota Medan. Namun, berhubung gue berposisi di Berau, gue pun bersiasat bagaimana cara termurah menuju kotanya ayang Raline Shah ini. Ada 2 pilihan rute: 1) Berau-Balikpapan-Medan via Jakarta; 2) Berau-Balikpapan-Medan via KL. Setelah dirinci semua pilihan penerbangan, rute no.2 bisa lebih murah hingga Rp600ribuan cing! Lumayaan… Nginep sehari deh kalo gitu :))

TRANSIT KL

Penerbangan Balikpapan-KL menggunakan Air Asia berlangsung mengerikan. Begitu terbang dari Sepinggan Balikpapan, cuaca memburuk. Pesawat mengalami turbulensi hebat. Dan ini berlangsung di sisa 50% jarak tempuh lagi. Ketika mengambil posisi landing, tiba2 pesawat menukik hebat balik ke arah atas. Semua penumpang kaget, takut bukan main, semua berdo’a. Setelah 30 menit muter-muter di udara dengan turbulensi bertubi-tubi, akhirnya pesawat kembali mengambil posisi landing. Berhasil! Gue pun mendarat di LCCT KL.

LCCT (Low Cost Carrier Terminal) Kuala Lumpur ini adalah bandara khusus maskapai-maskapai budget seperti Air Asia, Tiger Airways, dan lainnya. Begitu turun suasanya ga enak banget, rasanya kaya di gudang kargo. Dari LCCT gue menuju KL Sentral menggunakan SkyBus seharga RM 9, di busnya ada kru dan awak Air Asia juga.

Di KL Sentral gue membeli tiket KL Hop-On Hop-Off Bus seharga RM 42 (Rp130ribuan). Bis ‘double decker’ ini membawa loe keliling KL dengan 40-an tourism site, 23 bus stop yang berlaku selama 1 x 24 jam. Karena konsepnya hop-on hop-off, loe mau turun dimana? berapa lama? Atur sendiri.

IMG_2224Puas singgah di beberapa landmark kota seperti KLCC dan KL Tower, gue pun turun di Bukit Bintang. Di daerah ini ada yang namanya Jalan Alor, tempat yang kata mereka adalah ‘surga kuliner asia Tenggara’. Tampilannya mengingatkan gue akan ‘Benhil saat Ramadhan’, ehehe. Bedanya, tempat ini didominasi Chinese dan Thai food, jadi pastiin yang loe order adalah masakan halal.

IMG_2091

Malamnya gue menginap di Grid-9 Hotel, lokasinya di Maharajalela (dekat Chinatown). Semacam budget hotel untuk para traveler kere kaya gue, hehe. Gue membayar RM 30 (Rp100ribuan) untuk bermalam di bunker berkapasitas 4 orang. Tempatnya bersih, AC dingin, toilet di dalem, good wi-fi, fasilitas di common room-nya pun oke punya. Minusnya: ga dapet sarapan dan harus bawa gembok sendiri.

IMG_2192

Esok paginya gue meluncur kembali ke KL Sentral. Abis dari sana mau kemana bebas aja deh. KL Sentral ini semacam ‘hub’ yang menghubungkan berbagai rute dan moda transportasi dari/ke Kuala Lumpur. Perjalanan ke KL Sentral dari hotel di Maharajalela cukup menaiki monorail terdekat dengan tiket seharga RM 1.6 (Rp 3ribuan).

Nyari sarapan emang enaknya di dekat KL Sentral, pilihan banyak, enak-enak, dan harganya murah. Gue mampir di Restoran Nasi Kandar JMT Maju, menu Roti Prata dan Teh Tarik yang lezat ini dihargai RM 3 (Rp 10ribuan) sahaja.

IMG_2114

Karena perbangan ke Medan masih sore, gue memutuskan ke Batu Caves dulu, kebetulan belum pernah ke sana. Gue naik KTM Komuter meluncur ke Batu Caves selama 45 menit. Ongkosnya RM 1 (Rp3ribuan) aja cing! Hihihi. Batu Caves, situs wisata relijius umat Hindhu ini memiliki daya tarik luar biasa. Patung-patung raksasa menyambut kedatangan tamu-tamunya. Patung-patung segede Patlabor ini adalah Dewa Kera Hanoman (hijau) dan Dewa Muragan (emas). Gratis, tidak ditemukan loket penjualan tiket di sana.

IMG_3706

Pesona sesungguhnya dari Batu Caves berada 100 meter di atas sana, gue pun melewati 272 anak tangga yang berhasil bikin paha nyeri. Dari sana terdapat beberapa chamber dengan kuil masing-masing. Untuk mencapai kuil terbesar kedua, loe harus kembali menaiki 30 anak tangga.

Cukup rasanya menikmati pemandangan dari atas Batu Caves. Matahari yang semakin menyengat membuat gue buru-buru kembali ke stasiun KTM, membeli tiket pulang seharga RM 2 (Rp6ribuan) menuju KL Sentral. Dari KL Sentral gue langsung meluncur ke LCCT.

Tibalah gue di LCCT, ini akhir dari #TransitKL. Saatnya berpindah dari Kuala Lumpur ke Kualanamu.

MEDAN BIZ TRIP

Kenapa Medan Biz Trip? Karena memang tujuan utama gue dateng ke Medan adalah untuk menginisiasi sebuah bisnis kuliner bersama sohib lama di Medan sana, Karya Nugraha.

Menggunakan Air Asia, yang alhamdulilah penerbangan kali ini mulus, gue tiba di Kualanamu International Airport (KNO). Bandara yang baru saja menggantikan Polonia Medan ini GUEDE BANGET. Dengan desain interior yang menawan, signage modern, dan fasilitas kelas satu, menjadikan KNO sebagai bandara terbaik di Indonesia versi on the spot, eh versi gue!

IMG_2554Karya menjemput gue, menggunakan Innova miliknya kami meluncur selama 1 jam menuju pusat kota Medan. Di sana kami langsung mampir di Nasi Goreng Pandu untuk makan malam. Gue menginap di Swiss-Belinn Medan memanfaatkan diskon spesial di Master Card :))

Esok paginya Karya dan gue langsung mengelilingi habis kota Medan, mencari lokasi-lokasi terbaik untuk membuka gerai kuliner kami. Kota Medan memang tiada duanya untuk urusan kuliner. Adalah “RM SIPIROK” menjadi tujuan kami. Sop Tulang, Daging Bakar, dan Jus Martabe (Markisa Terong Belanda) menjadi pemuas perut di siang yang panas itu.

IMG_2374

RM Sipirok ini cepet banget servisnya. Baru pesen, ga nyampe 3 menit pesenan komplit. Rasanya? Maknyus banget! Dan owner-nya langsung yg datang ke meja-meja tamu utk menghitung tagihan, sambil ngobrol basa-basi segar. Konon, pegawai RM Sipirok ini tiap hari ke bank utk tukerin duit. Itulah kenapa uang kembalianya ga pernah ada yg lecek. Jadi mikir, bener juga ya.. Kadang konsumen kurang sreg klo dikasih uang kembalian yang lecek, robek, apalagi lembab. Insight nih!

Malemnya kami melanjtkan wisata kuliner ke “Mie Aceh Titi Bobrok“. Di sini, loe wajib mencicipi Mie Aceh Goreng dengan kepiting. Super enak rasanya.. Mantaff!

IMG_2301

Selesai dari sana kami nongkrong di “Kedai Kopi Ulee Kareng & Gayo” sambil me-review business plan dan menentukan lokasi mana saja yang menjadi tempat dimulainya usaha ini. Ngobrol-ngobrol berlangsung selama 2 jam lebih, menghabiskan 2 cangkir kopi saring yang enak banget. Let’s call it a day, siapin tenaga karena besok ke Danau Toba.

Perjalanan darat dari Medan menuju Danau Toba via Siantar memakan waktu sekitar 4 jam. Ketika di Tebing Tinggi kami mampir ke salah satu penjual Lemang Batok. Lemang, Ketan yang dibakar di dalam bambu, dimakan dengan dicocol srikaya, Mantapsss benar rasanya..

Setibanya di Parapat – Danau Toba, cuaca memburuk. Tapi ya.. hujan dan kabut bukan perkara lagi, sudah jauh-jauh kesini masa ga nyebrang ke Samosir? Penyeberangan reguler ke Pulau Samosir cuma ada Sabtu-Minggu, ongkos Rp25K/orang. Sayang, sekarang hari Jumat. Akhirnya carter kapal segede gini. Lumayan merogoh kocek hingga Rp400K untuk perjalan ke Samosir PP.

IMG_2484

Sesampainya di Pulau Samosir, kami disambut (kalau tidak salah namanya) Pak Horison Sidabutar. Pak Horison mengajak kami ke Desa Tomok, melihat peninggalan suku Batak Toba dengan Kuburan Batu tempat dimakamkannya raja-raja Batak Toba terdahulu, serta Kursi Batu yang menjadi tempat peradilan dilaksanakan pada zaman kerajaan dahulu kala.

IMG_2492Di sana juga loe bisa menemukan rumah-rumah adat asli Batak Toba sambil menonton pertunjukan Sigale-Gale. Khusus pertunjukan Sigale-gale, dipatok biaya Rp80K untuk setiap kali pertunjukannya. Jika serius dimainkan, konon bonekanya akan kemasukan roh Sigale-Gale. Jadi ceritanya, Sigale-gale adalah anak seorang raja yang terbunuh saat perang. Raja yang berduka memerintahkan seorang perajin membuat boneka untuk menggantikan anaknya.

Danau Toba dan Pulau Samosir, tempat yg dulu cuma jadi bahan ujian pelajaran IPS dan menu RPUL, akhirnya terkunjungi!

Di tengah perjalanan pulang menuju Medan, tepatnya di daerah Asahan, kami mampir ke “RM Beringin Indah“. Tempat ini menjual berbagai macam sajian khas burung goreng. Burung Ruak-Ruak Goreng, Sambal Teri Medan, dan Minuman Cap Badak Khas Siantar menjadi pemanja perut sore itu.

IMG_2518Sebelum menuju hotel kami sempat nongkrong dulu di Merdeka Walk menikmati Pancake Duren. Setelah itu masih dilanjut menikmati Sate Memeng dan membungkus Sate Padang Al Fresco. Buncit, buncit dehh… Mau gimana lagi, Medan memang surganya wisata kuliner, waktu yang pendek harus dimaksimalkan :))

Semalam saat di Merdeka Walk gue mengintip ke sebuah bangunan baru nan modern yang ternyata adalah stasiun kereta api. Dari sana keretanya bisa langsung menuju Bandara Kualanamu, turunnya di dalem bandara pula. Akhirnya gue memutuskan untuk mencoba moda transportasi kebanggaan warga Medan tersebut. Kebetulan pesawat yang akan membawa gue ke Padang berangkat pagi banget, pukul 06:00 WIB.

IMG_2530

City Railink Station, diklaim sebagai pemilik kereta api bandara yang pertama di Indonesia. Moda transportasi bebas hambatan menuju bandara ini mempunyai terminal yang modern dan bersih, operasional penjualan tiket yang profesional. Bahkan, sampai ditentukan nomor gerbong dan tempat duduknya. Sayang, ongkosnya masih cukup mahal, Rp80K. Perjalanan menuju bandara ditempuh dalam waktu kurang dari 40 menit. Destinasi selanjutnya adalah kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Medan adalah surganya kuliner Indonesia, itulah alasan membuka ‘lapak’ di sana.

continue reading >> HOLIDAY RUSH: 1 MINGGU, 4 KOTA (part 2)

Posted in TRAVELING | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

TIBA-TIBA LOMBOK!

IMG_0741

Gue adalah orang sibuk, sibuk mengisi liburan di saat yang lain berkutat dengan kerjaan.

Di kerjaan gue sekarang, ada yang namanya fieldbreak selama 2 minggu setiap 2,5 bulan. Akan selalu bertemu masa dimana orang-orang bekerja, dan gue liburan. Saat bosen gue biasanya ke mall, nonton film yang belum ditonton, makan-makanan yang belum dicoba.. Sendirian. Saking kesepiannya, gue sampe menculik orang. Beberapa kali gue menjemput temen dari kantor mereka di jam makan siang, dikembaliin menjelang jam pulang ;)

Masa-masa seperti ini men-trigger gue untuk lebih kreatif menghabiskan waktu libur, kalo ga mau bengang-bengong sendiri di rumah.

Pada fieldbreak Juni lalu, di tengah aktifitas liburan yang gitu-gitu aja, gue terpikir untuk pergi ngeliat tempat-tempat baru, tempat-tempat yang belum pernah gue datangi. Dengan budget seadanya, tempat yang belum pernah dikunjungi dan terpikir untuk didatangi adalah Makassar-Manado, Medan-Aceh, Vietnam-Myanmar, dan Lombok.

Lewat  bincang-bincang dengan seorang teman yang lagi ngebet banget ke Lombok, tapi ga bisa. Gue pun berpikir keras. Meski ga sempat sholat istikharah, petunjuk dari-Nya pun datang. Gue memutuskan untuk bikin dia iri, ehehe. Berangkat lah gue ke Lombok.

Jakarta – Lombok

Perjalanan Jakarta ke Lombok ada banyak pilihan, paling mudah dan terjangkau ya via udara. Maskapainya banyak, mulai dari Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air, Lion Air dan lain-lain. Karena gue suka bermain dengan adrenalin, dipilihlah Lion Air (ngerti kan maksudnya?). Harga tiket Rp550K adalah termurah saat itu (ternyata ini alasan utamanya). Penerbangannya langsung dari Jakarta (CGK) ke Lombok Praya (LOP), tanpa transit di Bali. Bandar Udara Internasional Lombok adalah bandara baru yang berada di Lombok Tengah. Modern dan megah.

IMG_0440

Mataram

Tujuan pertama gue adalah daerah Cakra, pusat kota Mataram. Transportasi ke sana gue pilih yang paling murah, Damri. Tiketnya Rp25K saja. Rute resmi Damri adalah Bandara-Terminal Mandalika. Tapi, gue ga disarankan turun di sana, banyak preman katanya. Akhirnya gue turun di pool Damri (daerah Sweda), perjalanan sekitar 1 jam. Dari sana gue keluarin Rp10rb untuk naik ojeg sampai ke Cakra.

Karena ‘jalan-jalan spontan’, gue melengos tanpa booking penginapan lebih awal. Untungnya, di daerah Cakra ada banyak pilihan. Salah satu yang populer di kalangan backpacker adalah Oka Homestay. Tapi karena penuh, gue akhirnya pindah ke ‘adiknya’, Oka Guest House. It costs you Rp150K/night include breakfast. Nyaman-asri-ramah, tiga kata yang pas untuk menggambarkan tempat ini.

IMG_0450Siang pertama di Lombok gue dijemput Denis, dulunya teman sekantor gue yang sekarang menetap dan bikin usaha di Lombok. Makan siang pertama di Lombok adalah Nasi Balap Puyung ‘Inaq Esun’. Denis mengajak gue ke daerah asal terciptanya makanan ini, yaitu di Puyung, Lombok Tengah. Tempatnya agak susah dihapal karena signage yang kecil plus lokasinya yang masuk ke dalam gang-gang perumahan. Nasi Balap Puyung adalah nasi putih dengan kacang kedelai goreng, taburan udang kering, dan suwiran ayam super duper pedas! Rasanya mantap luar biasa, ga cukup dua gelas es jeruk untuk memadamkan api di mulut gue.

IMG_0453

Merasa ruang di perut masih ada, kami langsung meluncur balik ke Mataram untuk mencicipi kuliner lainnya. Adalah Sate Pusut dan Sate Rembiga. Sate Pusut ini bentuknya mirip sate Lilit a’la Bali, terbuat dari kelapa, tidak pakai daging tapi gurih luar bisa. Nikmat. Nah, kalau Sate Rembiga ini mirip Sate Maranggi, terbuat dari daging dan dimasak dengan bumbu khas sehingga menciptakan rasa pedas-manis yang bikin mulut lo ga bisa bergenti ngunyah. Ini favorit gue!

IMG_0455Sore menjelang tenggelamnya matahari, kami menyisir pantai Senggigi. Senggigi adalah pusat liburan dan hiburan di Mataram, sekaligus situs wisata paling terkenal dan menjadi daerah wajib untuk dikunjungi di Lombok. Tempat terbaik untuk menikmati keindahan Senggigi adalah Malimbu Sunset Point 1 dan 2. Dari tempat ini lo bisa menikmati keindahan Senggigi dari ketinggian. Dari atas, pantai ini terlihat seperti perpaduan teluk dan tanjung yang dipagari tebing tinggi, nyiur pohon kelapa, dan cottage-cottage indah. Asli, keren!

IMG_0472

Gili Trawangan

Gili Trawangan menjadi tujuan di hari kedua. Dari Mataram, ada dua jalur untuk menuju Pelabuhan Bangsal Pemenang (pintu masuk ke Gili). Pertama, via Senggigi, waktu tempuh 90 menit. Kedua, via Gunung Pusut, waktu tempuh 60 menit. Di Gunung Pusut, lo akan menemukan banyak sekali sahabat kecil kita yang kongkow di pinggir jalan. Tips: bawalah kacang sebagai modal bercengkrama :)

IMG_0482Sampailah gue di Pelabuhan Bangsal Pemenang. Info aja, lo mesti siapin kocek sekitar Rp30K untuk naik Cidomo (Cikar Dokar Mobil – semacam andong dengan rota mobil) dari parkiran ke area pelabuhan. Area pelabuhan hanya untuk mobil/motor yang menjemput. Jujur, gue ga tau cara mereka bedainnya gimana. Gue ambil rute ke Gili Trawangan, tiketnya Rp12K. Selain GIli Trawangan, juga tersedia rute ke Gili Air dan Gili Meno. Btw, di Gili itu 80% isinya bule, makanya beginian aja yang dikirim setiap hari ga akan bisa disebut ‘lifetime supply’, karena abis terus:

IMG_0659

Perjalanan menggunakan boat memakan waktu sekitar 20menit. Begitu sampai di Gili Trawangan, banyak sekali orang lokal yang menawarkan penginapan murah. Harganya variatif, mulai dari Rp50 – Rp200K/night, fasilitasnya pun beragam. Karena ga buru-buru juga, gue putuskan untuk berkeliling dulu. Btw, di sini tidak diizinkan menggunakan kendaraan bermotor, bukan hanya untuk turis, warga lokal pun diberlakukan peraturan yang sama. Jadi, moda transportasinya kalo engga sepeda, ya Cidomo.

Gue berkililing Gili Trawangan menggunakan sepeda yang disewa seharga Rp50K/hari, cari penginapan yang sesuai selera dan affordable. Setelah 2 jam mengayuh sepeda mengelilingi Gili Trawangan, akhirnya pilihan jatuh pada Le Petit. Selain strategis, tempat ini sangat nyaman dan unik karena semua furniturnya hampir 100% berbahan kayu. Harganya lumayan menguras kantong sih, Rp300K/night.

Tapi yaa.. nyari duit aja udah pake mikir, masa ngabisinnya mesti pusing juga? Ehehe.

IMG_0576Bagi wisatawan asing, Gili Trawangan adalah pantainya pesta. Suasana ‘party all night long’ memang terasa meski masih siang. Tapi, tidak sembarang bar bisa menyelenggarakan party setiap malam. Mereka mengadakannya secara bergiliran.

Nirvana…. Begitu yang gue rasakan saat menyisiri pantai-pantai di Gili Trawangan. Bersih, jernih, dan cuakep buanget! Gili Trawangan menawarkan kehidupan pantai yang santai namun tetap mempesona. Tempat berjemur, nongkrong, dan kongkow di pinggir pantainya ga ada yang jelek.  Dan bule-bulenya? Damn good…

IMG_1854IMG_1861

Menyelam! Niat ini udah muncul sejak lama. Dengan berbagai pertimbangan, gue akhirnya memutuskan untuk mengambil lisenesi menyelam SSI Open Water. Adalah Gili Divers, sebuah dive shop yang dijalankan orang-orang Swedia, menjadi tempat gue belajar nyelem. Btw, hampir semua dive shop di Gili dijalankan oleh orang asing. Di Gili Divers saat itu, cuma gue orang Indonesia yang jadi peserta courses. Dengan Rp3juta lo mendapat in bungalow training (karena memang ga ada kelasnya), in pool training, dan 6 titik menyelam selama 3 hari.. Terpancingnya adrenalin, membuat rasa takut berganti penasaran, rasa yang terobati oleh sensasi bebas bernapas dalam air seperti ikan, dan mengagumi kehidupan bawah laut yang mencengangkan. Luar biasa!

IMG_0982IMG_0573Desa Sade

Gue sangat bersyukur punya teman di Lombok, yang bersedia mengantar kemana-mana, kalo engga? wah bakalan repot. Jarak dari satu tempat keren, ke tempat keren lainnya di Lombok ga ada yang dekat. Hari ini, gue dan Denis yang kali mengajak pacarnya, Merin, berencana mengunjungi Desa Sade. Jazz hitam Denis meluncur cepat ke Rembitan, Lombok Tengah, tempat di mana Desa Sade berada. Banyak guide yang biasa menemani turis di sana. Biasanya mereka memakai kain hitam.

Begitu masuk, kami langsung disuguhi suasana asli perkampungan pribumi. Rumah-rumah yang di desa ini disebut ‘Bale’, dibangun dengan rangka bambu, berdindingkan ayaman bambu, beratapkan ijuk, dan beralaskan tanah.  Suku Sasak, penghuni Desa Sade, bisa dibilang adalah cerminan masyarakat asli Lombok. Banyak hal menarik dari kehidupan mereka, seperti Islam Waktu Telu (sholat hanya 3 waktu), tradisi ‘menculik’ calon istri, sampai mengepel lantai dengan kotoran kerbau. Yak, yang terakhir gue ditawari untuk mencoba, tentu aja gue menolak. Gile aje lo megang-megang kotoran asing :D

imageMasyarakatnya banyak bekerja sebagai petani dan pengrajin tenun. Kain-kain cantik hasil tenunan yang menggunakan alat tradisional itu dijual dengan kisaran harga Rp150K-Rp350K. Harga yang pantas jika elo melihat proses membuatnya. Seorang Ibu yang baik hati menawari Merin untuk mencoba alat tenunnya. Setelah puas foto-foto akhirnya kami keluar dari Desa Sade dengan memberikan si guide selembar I Gusti Ngurah Rai sebagai tanda terima kasih.

Makan Makan Makan!

Ayam Taliwang! menu utama masakan khas Lombok ini menjadi pilihan di siang itu. Ada banyak tempat yang menyajikan masakan ini, sampe bingung milihnya. Gue pun melaporkan kebingungan ini ke @infolombok. Feedback terbanyak adalah Ayam Taliwang Irama, disusul Ayam Taliwang Pak Udin. Akhirnya Gue, Denis, dan Merin memilih nama pertama. Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung ini rasanya pedes-pedes nagih. Muka sampe penuh peluh menghabisi potongan besar hidangan ini. Tapi si Denis dan Merin nyantai aja ternyata, kaya makan gudeg. Gue yang lebay :|

IMG_0476

Malamnya gue masih penasaran dengan versi lain Ayam Taliwang. Akhirnya gue menuju RM Ayam Taliwang Pak Udin. Berbeda dengan Ayam Taliwang Irama yang dibakar, Ayam Taliwang Pak Udin ini digoreng. Rasanya? OKE PUNYA! TOP! Satu porsi ayamnya juga satu ekor, untuk satu orang. Hidangan pendampingnya selain Plecing Kangkung, adalah Beberuk. Beberuk ini semacam acar kali ya, rasanya asam, kurang cocok sama lidah gue.

IMG_0660

Tanjung Aan & Batu Payung

Berada di area Kuta, selatan Pulau Lombok, Tanjung Aan menawarkan keindahan sempurna sebuah pantai.

Pasirnya putih seperti gula, air laut super bening mengisi karang indahnya, bukit-bukit dan tebing tinggi memagarinya, langit biru menjadi payungnya.
Surgawi!

Ngomong-ngomong soal payung, di dekat Tanjung Aan ada sebuah batu besar berbentuk seperti payung, objek inilah yang disebut Batu Payung. Untuk menjangkaunya bisa dengan berjalan kaki, syaratnya harus saat laut surut. Ketika gue datang, laut sedang pasang, jadi harus menggunakan jasa perahu yang merogoh kocek sekitar selembar Soekarno-Hatta. Tapi, ini terbayar lunas ketika sampai di Batu Payung. Luar biasa! Foto di bawah ini sama sekali ga gue retouch, cuma dikolase aja supaya muat banyak. Gimana? Kebayang kan kerennya?

IMG_1860Hari semakin siang, semakin mendekati schedule terbang menuju Bali, destinasi selanjutnya dari ‘jalan-jalan spontan’ kali ini. Tiba saatnya gue harus meninggalkan Lombok. Adalah pengalaman super menyenangkan bisa mengunjungi pulau dengan banyak serpihan surga yang jatu di atasanya. Keinginan untuk datang kembali begitu kuat. Masih banyak spot yang pengin gue sambangi: Gili Nanggoe, Sekotong, Gunung Rinjani, Danau Segara, dan lain-lain.

Terakhir, super duper terima kasih banyak buat Denis dan Merin yang bikin liburan gue rame dan ga jadi turis cengok di Lombok. Btw, gue ke Lomboknya nunggu kiriman undangan dari kalian, ya? :)

IMG_0712! EXTRA
Tips Makan Murah di Gili Trawangan

Gili Trawangan menawarkan banyak sekali jenis makanan, dari western, asia, dan Indonesia tentunya. Paling asik ya barbeque seafood. Tapi, pelancong kantong bolong kaya gue tetep cari yang paling *makmur dong (*makan murah). Adalah Green Café tempat yang gue cari. Begitu datang, gue disambut banyak pilihan makanan. Dengan menggunakan teknologi touchscreen, telunjuk gue memencet-mencet kaca etalase menu makanan yang gue pengin, dan voila! tersajilah nasi campur di tangan Ibu kantinnya.  Ayam pedas, kering tempe, perkedel jagung, dan sayur patuk ini only cost you Rp20K, harga yang murah untuk Gili Trawangan.

IMG_0644Bosen juga ternyata makan a’la warteg mulu. Pengin juga rasanya gue makan makanan yang agak spesial di tempat yang keren, di pinggir pantai sambil minum yang seger-seger, dan nonton yang seger-seger juga.

Maklum, kelamaan di field bikin mata perlu ‘dikalibrasi’.

Kalau jeli, ada beberapa tempat kongkow di Gili Trawangan yang menawarkan PAHE (paket hemat). Gue memilih Waroeng Bule yang menurut gue tempatnya asik, view-nya keren, dan affordable price. Paket yang terdiri dari Pizza 8 slice dan sekaleng bir ini cuma seharga Rp40K. Wah asoy nih! Karena engga ‘minum’, gue memesan lemonade dan ternyata harganya Rp25K. Pizza-nya pun kebanyakan dan bir yang ga keminum gue bawa aja ke Gili Divers. Sigh. Malah gagal hemat gue… *sigh

Posted in TRAVELING | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

LABUAN CERMIN, AKUARIUM ALAM DI UJUNG HIDUNG KALIMANTAN

Idul Fitri tahun ini gue jalani di kota Tanjung Redeb, Berau. Kota yang dikenal sebagai pintu masuk Kepulauan Derawan yang terkenal itu. Libur dua hari cing! hmm.. jalan-jalan dong! Karena bosen ke Derawan *ditimpuk pembaca*, gue memutuskan untuk mengunjungi satu lagi spot unik bin keren yang ada di sekitar Tanjung Redeb. Namanya Labuan Cermin, spot wisata ini memang belum begitu terkenal di kalangan masyarakat awam Indonesia, karena belum pernah masuk daftar “7 Tempat blablabla Versi On the Spot” :p

Labuan cermin itu semacam laguna berlokasi di ‘ujung hidung’ Kalimantan. Rasa airnya tawar di permukaan dan asin di kedalaman. Jernihnya? Pooooollll!

Ujung hidung Kalimantan? Iya, kalo liat peta Kalimantan, kan bentuknya kaya muka orang tuh, nah posisinya itu di bagian hidung paling ujung :)

Tanjung Redeb – Desa Talisayan
Untuk mencapai Labuan Cermin amat disarankan menggunakan kendaraan roda empat. Bertolak dari Tanjung Redeb pukul 13.00 WITA, menggunakan Toyota Hilux kami sampai di Desa Talisayan pada pukul 16:30. Spot menarik di Desa Talisayan adalah sebuah perkampungan kecil nelayan yang berlokasi di pertemuan antara sungai dan pantai.

Image

Desa Talisayan – Biduk-Biduk
Perjalanan kami lanjutkan dengan melewati jalan perkebunan kelapa sawit. Kondisi jalannya buruk. Saking buruknya, tidak ada kesempatan bagi kami untuk tertidur di mobil selama 2 jam perjalanan melintasinya *yang nyetir seneng*. Setelahnya, jalan mulus sekali sampai akhirnya kami memasuki desa Biduk-Biduk pada pukul 19:30. Biduk-Biduk adalah sebuah desa pinggir pantai yang menjadi pintu masuk ke Labuan Cermin. Karena letaknya di pinggir pantai, maka banyak sekali tanaman bakau dan pohon kelapa yang menghisasi kanan-kiri jalan, ciamik! Ini fotonya saat siang hari:

Image
Biduk-Biduk – Labuan Cermin
Penginapan Mayang Sari, itulah tempat yang direkomendasikan oleh mereka yang sudah ke sini. Tarifnya Rp160K/malam, fasilitas kamar double bed, AC, TV, kamar mandi, dan sarapan. Ada sebuah spot memancing menarik di Biduk-Biduk, namanya Teluk Sulaiman, konon gampang dapat ikan kalau memancing malam hari. Tapi, karena badan sudah rindu berbaring lurus kamipun beristirahat sampai akhirnya bangun pukul 06:00 WITA. Selamat pagi Biduk-Biduk :)
Image

Perjalanan dari penginapan ke sebuah pelabuhan kecil tempat menyeberang membutuhkan waktu 10 menit menggunakan mobil. Untuk mencapai Labuan Cermin harus menggunakan perahu motor berkapasitas 12 orang. Tiketnya murah aja, Rp10K/kepala. Kata penjual tiketnya, “Tempat ini biasanya sepi sekali pengunjungnya. Tapi, Alhamdulillah hari ini banyak yang datang”. *ikut bersyukur*.

Image

Cukup 10 menit kamipun sampai di Labuan Cermin. Turun dari perahu kami menempuh perjalanan setapak seperti sedang hiking. Jalan yang dilewati sangat licin, disarankan tidak menggunakan sandal jepit. Setelah 3 menit berjalan kami terdiam dan terpaku melihat keindahan alam di depan mata. Ya Tuhan, sungguh luar biasa ciptaan-Mu…

Image

Dari jauh airnya biru ocean, dari dekat bening luar biasa. Dingin, brrrr.. Bayangkan sebuah akuarium raksasa dengan batu hiasan khasnya, dikelilingi miniatur hutan rimbun nan teduh, lalu diisi air Aqua hasil sulingan terbaik. AWESOME! Sayang sekali ga ada bukit atau spot tinggi di sekitarnya untuk ambil foto dari atas.

Aktifitas yang dilakukan di sana? Berenang!! Dua hal yang gue sesali: Pertama, ga bawa wet-suit, sumpah airnya dingin pol. Kedua, ga bawa google/mask, bikin kurang puas saat nyelem-nyelem lucu. Ohiya, di sini juga disediakan penyewaan ban dalem, harganya Rp15K untuk dipake sepuasnya.

IMG_1769Jernihnya air Labuan Cermin memang super duper! Ditambah warna batu-batu yang beragam bikin tempat ini layaknya ‘akuarium alam’.  Penggambaran lebih jelas coba gue tunjukkan dengan foto di bawah, batunya terlihat seperti di luar permukaan air, padahal tenggelam.

Image

Fotonya sama sekali ga di-retouch. Kebayang kan?? Rasanya seperti berada di serpihan surga yang terbawa Adam-Hawa saat dibuang ke bumi.

Setelah makan siang dan dan istirahat sejenak kami pulang ke Tanjung Redeb, meninggalkan Labuan Cermin, Akuarium Alam di Ujung Hidung Kalimantan.

Posted in TRAVELING | Tagged , , | 2 Comments

Gile Nih!

Ahoooy…!
*bersihin sarang laba-laba di dashboard blog*

Gile nih, lama banget ga posting-posting di mari.
Mundur setahun lima bulan ke belakang, perjalanan hidup gue sungguh gile.
Sekalinya ada waktu, ga ada ide.
Sekalinya ada ide, ga ada waktu.
Sekalinya ada ide dan waktu, ga ada tenaga.
Sekalinya ada waktu, ide, dan tenaga, ga ada kamu! #lho

Gile nih!

Pokoknya minggu ini harus ada kamu! #eh, maksudnya harus ada postingan lagi.

Itu sudah.

Posted in Uncategorized | 3 Comments

#KODE SEKODE-KODENYA

#uhuk! #eaaa :))

Posted in KOMIK | Tagged , , | Leave a comment

2011: PAUS, HIU, DAN LUMBA-LUMBA

Awal 2011 adalah masa dimana gue berusaha keluar dari hutan belantara. Empat tahun lebih terjebak di dalamnya, gue belajar banyak hal. Hal-hal yang membekali gue dalam perjalanan menuju lautan. Lautan yang menjadi sumber penghidupan. Persis di akhir bulan Maret 2011, gue berhasil lolos dari hutan tersebut, sampailah gue di pesisir pantai.

Dari pesisir pantai gue menatap lautan luas yang selama ini hanya mengawang di pikiran gue. Sempat beberapa kali gue melempar bebatuan sambil berucap: “gue harus mulai dari mana?”. Tak perlu berpikir terlalu lama, gue menceburkan diri ke pantai dan mulai berjalan. Gue bersyukur, ombak saat itu cenderung rendah dan relatif tak menghalangi langkah gue.

Gue berjalan hingga air laut setinggi kepala, lalu berenang dan menyelam. Saat itu, hewan-hewan laut mulai terlihat. Demi menarik perhatian mereka, segala cara gue lakukan. Berbekal bebatuan yang gue kantongi di pesisir, gue lempari mereka. Beberapa dari mereka tampaknya merespon lemparan gue. Gue pun menyapa. Beberapa dari mereka mulai mendatangi gue. Interaksi dengan makhluk-makhluk laut pun mulai intens gue lakukan.

Dari semua yang ada di sana, tampak seekor lumba-lumba muda bermanuver dengan cantiknya. Gue terpukau, bercengkrama dengan makhluk seperti itu adalah impian gue ketika masih di hutan. Berusaha menarik perhatiannya. Gue lempar dia dengan batu terakhir di saku gue. Ternyata, sang lumba-lumba merespon, member sinyal bahwa gue dipersilahkan bermain bersama.

Mengikuti gerakannya yang indah, membuat gue banyak belajar tentang filosofi mengarungi lautan. Bersama lumba-lumba, gue mencoba mempercantik lautan. Bersama lumba-lumba, hari-hari gue selalu menyenangkan. Dengan sesekali melompati permukaan lautan, gue diajak melihat jauh ke depan. Kekaguman gue pada lumba-lumba benar-benar luar biasa.

Setelah tiga bulan gue menikmati kebersamaan dengan lumba-lumba, datanglah hiu dan paus menghampiri gue. Masing-masing mereka merasa bahwa lemparan batu gue beberapa bulan yg lalu dulu mengenai mereka. Rupanya setelah sekian lama, mereka baru menyadarinya *sigh*. Hiu berkata bahwa bahwa lemparan gue cukup kuat untuk membuktikan kekuatan gue mengimbangi pergerakan dirinya. Sementara paus, dengan tubuhnya yang besar ia menjanjikan kehidupan aman dan nyaman andai gue mengarungi lautan bersamanya. Gue tergiur. Namun, sang paus melontarkan beberapa syarat yang akan membuat gue sulit lepas darinya. Karena di satu sisi, gue masih sangat ingin bersama lumba-lumba.

Akhirnya gue memutuskan untuk lebih memilih berinteraksi lebih lama dengan sang hiu. Hiu memang tidak sebesar paus, namun hiu yang satu ini benar-benar cerdas lagi buas. Tubuh sang hiu berkembang begitu cepat, gerakannya sungguh dinamis. Ia pun menjadi salah satu hewan paling ‘tampak’ di lautan saat itu. Hiu menawari gue untuk ikut bersamanya. Gue tergoda. Siapapun pasti tergoda.

Namun, bagaimana bisa gue meninggalkan lumba-lumba yang begitu menyenangkan? Gue sudah berada dalam zona nyaman bersama lumba-lumba. Dilema. Gue dihadapkan pada sebuah janji kala di hutan. Janji-janji yang memaksa gue untuk berpaling. Meski begitu, berbeda dengan paus, hiu cukup ‘jantan’ untuk membebaskan gue kapanpun gue mau meninggalkannya. Meminta izin pada sang lumba-lumba, dan ia mengabulkannya. Gue pergi. Melangkah ke depan dengan kepala yang selalu menoleh ke belakang.

Gue akan sangat merindukan lumba-lumba. Merindukan tawa bahagia bersamanya. Merindukan berbagai manuver briliannya. Merindukan matanya yang menatap jauh ke depan. Merindukan gerakan siripnya yang mem-boosting semangat gue. Merindukan mulutnya yang tak pernah berhenti makan.

Membuka tahun 2012, nyaris 100% perhatian gue tertuju untuk mengimbangi pergerakan sang hiu. Meski begitu, sesekali gue mencuri pandang pada lumba-lumba. Mencuri waktu untuk berinteraksi dengannya. Harapan untuk kembali pada lumba-lumba kembali membuncah. Gue sangat berharap bisa kembali suatu saat nanti.

 

Posted in Uncategorized | 5 Comments

Reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu

Hadeuh… –”

Btw, ini lho hasil ‘kocok ulangnya’: Susunan Kabinet Indonesia Bersatu II Hasil Reshuffle

Posted in KOMIK | Tagged , , | 2 Comments

BBM-an PAKE iPHONE (?)


Namanya iMessage!! Sebuah aplikasi baru yang ikut diluncurkan bersamaan dengan rilisnya iOS 5 pada 12 Oktober lalu. Fitur ini semacam BBM pada Blackberry yang telah akrab lebih dulu di telinga para gadget user.

Lucunya, di hari peluncuran iMessage, layanan BBM malah mati di empat benua. RIM membuat ini semakin ‘mudah’ bagi Apple ;)

Posted in KOMIK | Tagged , , , | Leave a comment