GOLF 101: GOLF & BISNIS (A dumb article for dummies)

Since this blog managed by a dumbass, tolong dimaklumi kalo gue loncat-loncat soal postingan sekuel GOLF 101 ini :). Di postingan sebelumnya, gue pernah bilang kan bahwa golf ini penting di bidang pekerjaan yang gue jalani saat ini, oke ini saatnya gue share kenapa itu bisa terjadi.

  • Disclaimer: Demi menjaga privasi, dalam postingan ini gue ga akan nampilin foto/dokumentasi gue bersama business partner/klien.

Jadi gini, banyak yang bilang lapangan golf adalah tempat terjadinya deal-deal besar dalam bisnis. Ya itu bener sih. Tapi, buat gue itu tidak sepenuhnya menjadi ‘tujuan’ dalam olahraga ini. Pertanyaan: 1. Apakah dengan closing a deal di lapangan golf pasti membuat loe atau perusahaan loe punya nilai tambah di mata klien? 2. Apakah closing a deal di lapangan golf mampu membina hubungan bisnis yang berkelanjutan? Jawaban untuk keduanya adalah BELUM TENTU, dan gue termasuk yang TIDAK SETUJU. Bayangkan ketika loe mengincar sebuah deal di lapangan, dimana saat itu perasaan klien punya pengaruh lebih dominan dibandingkan dengan logikanya dalam mengambil keputusan (karena mungkin lagi happy). Dan dengan senyum bangga loe pulang dari lapangan membawa secarik kontrak yang telah ditanda-tangani. Lalu coba bayangkan apa yang dipikirkan klien setelah itu. Apakah dia tenang, puas, menyesal, atau bahkan merasa terjebak? Semua kemungkinan bisa terjadi. Di postingan ini gue ga bakal cerita tentang bagaimana closing a deal di lapangan golf. Karena memang gue ga tahu soal itu dan tentu saja tidak menjalankan praktik-praktik semacam itu. Buat gue golf hanyalah sebuah media untuk membina hubungan baik yang berkelanjutan, sisanya bekerjalah secara profesional. Buat loe yang berespektasi gue akan menulis cara bikin deal di lapangan golf, silahkan kecewa. Gue hanyalah seorang ‘cupu’ yang percaya bahwa,

Every good business is based on logical thoughts.

Gue ga akan pernah men-drive para klien pada sebuah deal yang gue yakini tidak bersifat ‘simbiosis mutualisme’. Menjadi bagian dari kesuksesan klien dan tidak menjadi kontributor dalam kegagalan mereka adalah PRINSIP yang gue pegang. Okay, cukup intro-nya, saatnya masuk ke inti postingan. Bermain golf bersama klien tidak sama dengan bertanding golf dalam sebuah kompetisi. Yang gue maksud berbeda bukanlah peraturan, tapi adalah bagaimana cara kita menempatkan diri dan memperlakukan mereka. Gue akan coba share 10 hal yang perlu loe pahami pada sebelum, sedang, dan setelah bermain golf bersama klien.

1. Basic Skill Adalah Keharusan

Loe yakin mau turun ke lapangan dengan kondisi basic skill aja belum dikuasai? Take a lesson dulu bro.. Kalaupun dasar-dasar teknik sudah punya, ada baiknya diperlancar dengan rutin latihan di driving range. Kenapa ini penting? Karena jangan sampe kehadiran loe di lapangan nanti malah bikin klien loe ‘bete‘ karena memperlambat permainan (dikarenakan pukulan loe yang kerap meleset). Ketidak-mampuan bermain hanya akan mempermalukan diri loe sendiri dan menjauhkan perusahaan yang loe wakili.

Don’t combine golf and business until you’re playing competently.

2. Dress Code

Salah satu permulaan terbaik sebagai seorang pemula adalah diajak bermain golf oleh klien loe. Gue sih yakin, kalo kita masih pemula cenderung ragu-ragu dan malu-malu kalo ngajak orang. Tapi ketika klien loe yang ngajak? That’s a good sign! Penyakit paling awam orang yang pertamakali diajak turun ke lapangan adalah how to dress. Jangan sampe loe dateng cuma pake kaos bola, celana jeans, dan topi beridentitas cabang olahraga lain. Jadi gimana dong? Silahkan cek postingan gue sebelumnya ya tentang apparel golf.

In golf, what you wearing shows how you respect the game and the opponents.

3. Datang Lebih Awal

Telat adalah penyakit di segala hal, baik di olahraga maupun di bisnis. Loe mau dianggap berpenyakit di dua bidang sekaligus? Jadi gini, umumnya permainan golf dilaksanakan sebanyak 18 hole, dimana untuk menyelesaikannya rata-rata butuh waktu 4-5 jam. Standar tee-off adalah jam 6-7 pagi. Jadi, siap-siap ‘bete‘ karena kepanasan ya kalo loe telat tee-off. Selain itu, kenapa gue bilang datang lebih awal?

Karena sebelum tee-off, biasanya loe dihadapkan pada obrolan pagi penuh gizi, yang kalo loe lewatkan = rugi.

4. Ikuti Aturan

Sejujurnya gue pernah ngalamin hal buruk gara-gara menganggap enteng aturan. Gara-garanya adalah bola hasil pukulan gue masuk ke dalam rough, dimana saat itu dengan entengnya si bola gue angkat pake tangan dan pindahin balik ke fairway untuk dipukul lagi. Si klien yang melihat itu langsung ‘bete‘, dan mukanya nunjukkin kalo dia memandang remeh gue. Mungkin dalam hati dia bilang, “Nih anak ga tau aturan, males deh main sama dia lagi”. Jadi ya, tetaplah ikuti aturan, lebih-lebih ketika bermain sama orang yang belum loe kenal dengan baik karakternya.

Semakin detail aturan itu loe ikuti, sedemikian juga loe akan lebih ‘dianggep’. Kenapa? Itu nunjukkin kalo loe profesional in person.

5. Etika di Fairway

Ikuti aturan paling dasar, yang memukul duluan adalah yang posisi bolanya lebih jauh dari hole. Ketika dihadapkan pada hole dengan jumlah Par 4-5, ujian terberatnya adalah saat bola masih berada di fairway. Loe akan semakin bernafsu menghasilkan pukulan jarak jauh untuk memangkas jumlah pukulan. Semakin loe nafsu, semakin tidak ‘istiqomah’ hasil pukulan loe. Padahal, memasuki fairway adalah sesi ngobrol-ngobrol lanjutan dari obrolan sebelum tee-off. Jadi, kalo seandainya klien loe sudah cukup konsisten pukulannya, usahakan selalu bola hasil pukulan loe bisa searah atau mendekati hasil pukulan dia. Jangan sampe ‘mencong-mencong‘, yang tadinya pengin lanjut ngobrol malah kepisah-pisah akhirnya. Lebih-lebih kalo loe berada dalam satu golf cart dengan klien loe.

‘Kan ga lucu kelamaan di fairway cuma gara-gara golf cart harus bergerak ‘zig-zag’ karena pukalan loe dan klien loe ‘tidak satu frekuensi’ :D

6. Etika di Green

Ketika memasuki green jangan berisik. Usahakan untuk tetap diam, mulai dari lawan hendak melakukan putting, sampai dengan bola berhenti atau masuk hole. Biarkan dia berkonsentrasi. Selain berisik, salah satu aksi paling provokatif dalam golf (yang mungkin belum elo pada tau) adalah, ketika memasuki green janganlah melintas pada jalur putting lawan-lawan loe, lebih-lebih dengan menggosok-gosokkan sepatu. Ini adalah aksi yang provokatif. Di green, maksimal lo harus bisa masukin bola ke hole dalam dua kali kesempatan. Lebih dari itu, kecil peluan loe untuk mendapatkan Par. Inilah kadang-kadang yang membuat loe kesel dan ngotot. Dalam golf ga boleh ngotot, dan kalopun loe kesel jangan tunjukkin terlalu vulgar kayak teriakan, umpatan, banting golf clubs dan lain-lain. Itu hanya akan menunjukkan ke klien bahwa loe seorang yang tempramen, ‘species’ yang dihindari dalam hubungan bisnis. Di sisi lain, jangan juga terlalu jumawa ketika loe tampil lebih baik dari klien loe.

Accept failures with grace, and victories with humility. It makes them felt that playing golf with you is something that is always looked forward to.

7. Jangan Taruhan Apapun

Taruhan adalah godaan berat dalam olahraga ini. Godaan untuk ‘taruhan’ dalam olahraga golf ibarat buah khuldi yang berhasil menggoda Nabi Adam. Taruhannya bisa macem-macem. Paling standar sih adalah gross stroke terendah per hole. Nilai taruhan sangat variatif tergantung kesepakatan, yang jelas cara menghitungnya adalah: “n x lembar merah”. Biarpun terbungkus kesenangan, dalam bertaruh siapa yang mau rugi? Atau siapa yang tidak mau untung?

Bertaruh dalam golf menimbulkan rasa kompetitif yang tak terbendung sehingga bikin suasana bermain golf jadi kurang asik.

8. Fair Play

Golf membuat kita menjadi ‘polisi’ bagi diri kita sendiri. Di sana ga ada wasit, juri, apalagi hakim garis. Cuma elo dan kejujuran loe. Mengaku jumlah pukulan lebih sedikit dari kenyataan saat mengisi score card, menendang bola di dalam rough supaya dapet spot memukul lebih baik, atau sekadar menaruh mark tidak sesuai dengan berhentinya bola di dalam green, adalah beberapa contoh perilaku tidak fair play dalam golf. Jangan terlalu pede bahwa lawan loe tidak mengetahui itu sehingga ini jadi kebiasaan elo. Integritas loe bisa menjadi taruhannya jika mereka sudah muak dengan ‘kebiasaan’ loe tersebut.

Success will come and go, but integrity is forever. That’s the key of a good long-term business relationship.

9. Timing Bicara Bisnis

Di lapangan golf, hubungan secara hirarki dapat dieliminasi. Sehingga membuat komunikasi menjadi lancar dan fleksibel. Suasana yang terbentuk setara tersebut mendorong komunikasi kita tidak hanya bersifat vertikal, melainkan horizontal, atau bahkan diagonal, dan mungkin circular (emangnya track lari, hehe). Ciptakan topik-topik yang santai namun berkelas, ringan tapi tidak murahan. Hindari bicara bisnis, unless klien loe sendiri yang membuka pembicaraan. Adapun ketika ada hal penting terkait bisnis yang memang harus loe bahas saat itu, ciptakan momen loe sendiri. Saat terbaik adalah ketika loe dan si klien dalam perjalanan menuju tee-box baru setelah menyelesaikan sebuah hole. Usahakan itu terjadi pada hole-hole terakhir, misal hole ke-15 atau lebih.

Intinya, porsi bicara bisnis saat bermain golf jangan sampai lebih besar dari topik di luar bisnis. Atur porsi yang cukup, timing yang pas, dan to the point.

10. Fee & Tip

sumber: dokumentasi pribadi

sumber: dokumentasi pribadi

Course fee biasanya terdiri dari green fee, cart fee, caddy fee, dan pajak. Jika loe adalah pihak yang punya kepentingan lebih dari klien loe, just take the bills. Reguler flight gue setiap bermain golf terdiri dari 2 orang project manager dan seorang owner mining services company. Mereka yang secara hirarki lebih tinggi dari gue kadang punya gengsi tersendiri, tidak jarang mereka yang took the bills. Itu juga oke-oke saja. Selain course fee, adalah menjadi kebiasaan para golfer untuk memberikan tip kepada caddy. Beberapa pemain reguler, biasanya juga punya seorang caddy yang menjadi langganan. So, just let everyone handle the caddy tip themselves. Caddy tip sangat variatif, yang jelas loe mesti tahu ‘pasaran’ di golf course terkait. Jangan sampe mengubah pasaran yang nantinya bikin kesenjangan.

Sebagai pihak yang punya kepentingan lebih, tidak melulu elo yang harus handle all the bills. Ciptakan suasanya yang casual dan nyaman. Percayalah, tidak semua orang nyaman dibayarin terus :)

……………………………………………………………………………….

Secara umum, interaksi dalam bermain golf ibarat membuka ‘jendela’ dimana loe dapat mengintip (dan juga diintip) hal-hal bersifat personal seperti nilai-nilai kepribadian dan perilaku. Perilaku seseorang di lapangan, merefleksikan karakter dan etika bisnis mereka. Manfaatkan ‘jendela’ ini sebagai proyeksi citra positif dari diri loe dengan menunjukkan etika golf-bisnis yang tepat. Itu aja deh. Intinya, jangan biarin sikap dan perilaku loe di lapangan malah menjadi ‘handicap‘ yang melemahkan. Baik untuk loe maupun perusahaan. Semoga loe bisa menciptakan suasana bermain golf yang menyenangkan, yang membuat value diri loe bertambah tinggi, profesional, dan semakin bisa dipercaya.

sumber: dokumentasi pribadi

Extra: Mereka yang ruang kerjanya punya perangkat mini golf seperti di atas, kadang dianggap klise atau sekadar gaya-gayaan. Percaya deh, there’s a certain purpose.

See ya, di postingan berikutnya!

IMG_0444

Posted in THOUGHTS | Tagged , | 1 Comment

GOLF 101: PERALATAN GOLF (for dummies, from dummy)

IMG_0309

 “I don’t want to be a product of my environment.
I want my environment to be a product of me.”

Itu kata Frank Costello di dalam film The Departed, dan gue adalah orang yang (pengin) memegang teguh prinsip itu di manapun gue berada.

Ternyata ga gampang bro :))

Jadi ceritanya, 2 tahun terakhir ini gue sedang sangat menekuni dan menggemari sebuah olahraga yang sebenarnya ‘gak gue banget’, Golf. Olahraga ini menjadi semacam unwritten KPI (Key Performance Indicators) yang punya peran kuat dalam karir di perusahaan tempat gue bekerja saat ini. Kok bisa? Oke nanti gue tulis belakangan. Pokoknya penting deh! Loe harus tau. Kalo loe ga mau tau, ya harus tau juga. Kenapa? Ya pokoknya penting! Loe harus tau. Eh kok keterusan. Oke nanti gue tulis belakangan. Pokoknya pent………… “Woiy!! Pada kemana? Kok pada pergi?!?!”.

Gue bukan ahli, ataupun mumpuni memainkan olahraga para aristokrat ini. Cuma pengin cerita aja. Jadi, buat loe yang udah jagonya selevel Jedi Master, mending skip aja deh karena postingan ini cuma buat para Young Padawan, yang ga akan memberi loe pencerahan apa-apa. Malahan,, I’m gonna drag you down to my level, and beat you with my experience. *evil grin*

Oke, kita masuk bagian pertama.. PERALATAN GOLF!

GOLF EQUIPMENT

Jadi gini ya, ga kayak Galasin yang dengan nyeker aja kita udah seru banget mainnya, Golf memerlukan alat-alat khusus untuk memainkannya. Unless, you’re a caddy. Menjadi caddy pun perlu kemampuan khusus, kapan-kapan gue ceriatin.

#1 Golf Equipment:
CLUBS!

Orang awam menyebutnya stick golf, ketika masuk dunia “pergolepan, loe bakal mengenalnya sebagai golf clubs. Sebuah golf club memiliki 3 elemen: headshaft, dan grip. Perbedaan spesifikasi dari ketiga elemen tersebutlah yang membuat golf club menjadi banyak jenisnya.

Gambar di bawah adalah standar 1 set golf clubs terdiri berbagai jenis dengan kegunaannya masing-masing.

Golf Clubs Omsotong minimized

Keterangan nomor:

1. Woods. Wood atau biasa juga disebut driver, dipake untuk mendapatkan hasil pukulan jarak jauh. Mereka biasanya terdiri dari wood 1 sampe wood 3. Gue sih cuma punya wood 1, dan itu cukup kok. Wood 1 normalnya mampu menghasilkan pukulan sejauh 200 meter atau lebih. Saat akan menggunakan wood di tee-box, lo akan selalu dibantu sebuah benda kecil bernama tee.

Wood 1 pertama yang gue punya adalah TaylorMade R11s, tapi kini gue sangat nyaman dengan TaylorMade Rocketballz (RBZ).

2. Hybrids. Hybrids ini semacam kombinasi antara woods dan irons. Seperti halnya woods, hybrids juga digunakan untuk mendapatkan hasil pukulan jarak jauh. Bedanya, hybrid dapat digunakan di luar tee-box, sementara woods hanya bisa digunakan di dalam. Hybrid juga kadang-kadang disebut sebagai rescue, karena salah satu kegunaannya adalah untuk ‘menyelamatkan’ elu-elu semua ketika pukulan sebelumnya melenceng menjauhi dari fairway dan perlu pukulan jarak jauh untuk meminimasi jumlah pukulan.

Sejak awal hingga kini gue setia menggunakan Hybrid dari Taylormade Rocketballz (RBZ).

3-8. Irons. Menurut gue, irons adalah “Sang Alpha” dari semua jenis golf clubs yang ada saat ini. Sebuah irons set biasanya terdiri dari no. 5 sampe no. 9 plus pitching. Dimana semakin besar nomornya, semakin pendek shaft-nya. Semakin panjang shaft-nya, semakin jauh hasil pukulannya. Sebuah iron no.7 mampu menghasilkan pukulan sejauh 120 meter atau lebih.

Selayaknya Nikon dan Canon, para pengguna irons juga terbelah 2 kubu, yakni para pengguna shaft berbahan Steel dan shaft berbahan Graphite. Untuk mencapai jarak yang dituju diperlukan akurasi, mereka pengguna steel cenderung dominan mengkombinasikannya dengan power, sementara pengguna graphite cenderung dominan mengkombinasikannya dengan feeling. Di awal karir ‘pergolepan’, gue adalah pengguna steel (Taylormade R7). Tapi sekarang udah engga, lagi-lagi gue dimanjakan teknologi shaft graphite dari Taylormade Rocketballz (RBZ).

4. Wedges. Wedges ini sebenernya irons juga, tapi segitu spesialnya sampe ‘dikeluarin dari geng-nya’. Apa sih spesialnya wedges? Adalah loft-nya alias derajat kemiringan pada head. Dibanding irons, loft pada wedge jauh lebih landai. Wedges biasanya dipake untuk pukulan-pukulan lob berjarak sangat pendek untuk menuju green. Tipe wedge yang populer dan multifungsi adalah Sand Wedge (SW), karena sangat membantu loe untuk lepas dari jebakan bunker.

Satunya-satunya wedge yang gue punya dan gunakan adalah tipe SW dari HONMA Tour World.

5. Putter. Ibarat pemain sepakbola, putter ini adalah ‘Sang Striker’, bertugas mencetak gol (put in the hole) di dalam kotak pinalti (green). Kita berada pada era dimana putter sudah banyak sekali macamnya, mulai dari bentuk dan bobot head-nya, sampai ke bentuk dan panjang shaft-nya. Semua punya tujuan khusus masing-masing.

Gue udah nyoba banyak jenis putter, dan yang nyaman gue pake saat ini adalah ODISSEY White Shot Pro.

#2 Golf Equipment:
APPAREL.

Apparel merupakan hal yang penting dalam golf. Selain fungsinya untuk menunjang permainan golf elo semua, it shows how you respect the game and the opponents. Sering denger kalo apparel golf mahal? Iya, memang! Hahaha.

Belanja peralatan golf berkualitas yang murah memang tricky, banyak jual dengan harga murah tapi palsu. Dan jangan harap dapet barang murah dan bagus di toko-toko terpercaya dengan cara biasa. Beberapa yang lo bisa lakukan untuk mendapatkan apparel golf berkualitas bagus dengan harga cukup terjangkau:
– Tanggap Diskon. Beberapa tempat seperti Top Golf dan Golf House, biasanya meminta kontak loe setelah berbelanja. Ga usah khawatir, kasi aja. Karena itu akan membantu loe untuk selalu dikirmkan update promo atau diskon dari mereka.
– Sports Warehouse! Ini adalah tempat terpercaya di mana loe bisa membeli peralatan golf original dengan harga murah. Cuma ya… sedikit ketinggalan jaman aja sih, sedikit.
– Ikut turnamen. Engga turnamen golf harus diikuti profesional, yang banyak malah business event berbungkus turnamen yang mayoritas pesertanya adalah amatir. Selayaknya turnamen golf kebanyakan, selain trophy mereka menyiapkan banyak sekali doorprize dan itu tentunya berupa golf equipment dan tentunya: apparel!

Gambar di bawah adalah standar 1 set golf apparel yang cukup menunjang permainan dan penampilan loe di lapangan.

Kolpri Omsotong minimized

1. Hats. Topi akan sangat membantu loe untuk terhindar dari silau cahaya matahari. selain itu, topi juga bisa menjadi tempat untuk menyimpan marker dan tee. Topi adalah salah satu media promosi ampuh untuk berbagai brand/produk yang ‘dititipkan’ ke sang golfer.

Merk golf hats populer: Titleist, TaylorMade, dan Callaway.

2. Shirts. Tidak ada perbedaan spesifik antara bahan dasar golf shirt dan pakaian/jersey olahraga lainnya di masa ini. Misalnya tipe climacool dari Adidas yang diaplikasikan ke apparel berbagai cabang olahraga sekaligus. Jadi ya sebenernya, cukup menggunakan jersey sepakbola tim favorit loe pun nyaman kok untuk beraksi di lapangan golf. Tapi ya balik ke poin yang gue sampaikan sebelumnya, golf is all about respect.

Jika menggunakan golf shirt lengan pendek, loe bisa menambahkan hand sleeve agar terhindar gosong karena panas matahari.

Merk golf shirts populer: Adidas, Nike, dan Pin High.

3. Gloves. You can’t make the good hits continuously without a clove! Selain teknik hand grip, golf cloves mengambil peran penting atas kesuksesan pukulan-pukulan loe. Golf cloves menjamin posisi tangan pada grip tetap ‘menggigit’. Golf cloves cukup digunakan di tangan kiri. Adalah hal yang ribet bagi yang seorang kidal untuk mendapatkan golf cloves.

Merk golf cloves populer: FootJoy, Nike, dan Wilson-Staff.

4. Shoes. Golf Shoes merupakan apparel yang paling tinggi harganya. Gue ga sebut mahal ya karena they’re worth it. So, pastiin golf shoes yang loe pilih merupakan yang paling mungkin akan loe gunakan dalam jangka panjang. Bentuk dan desain umum golf shoes tidak banyak berbeda dengan sepatu biasa, baik sepatu sport maupun pantofel. Hal paling mendasar yang membedakan golf shoes dengan sepatu sport biasa adalah desain sole-nya, yang secara khusus memberi traksi kepada golfer. Umumnya sole pada golf shoes menggunakan model spike, dimana spike yang bentuknya kaya baling-baling itu akan tiba waktu rusaknya dan memang dijual sparepart penggantinya. Sementara, yang lagi hits saat ini adalah sole yang model hybrid (molded grip bottoms), dimana jenis ini sangat nyaman digunakan dan tidak kalah ‘menggigit’ dibanding model spike. Gue pake yang ini sih.

Kalo pun loe belum punya golf shoes ga apa-apa sih cuek aja santai, just use your usual running shoes is okay, as long as its fit and waterproofed (you’re gonna face some wet conditions).

Merk golf cloves populer: FootJoy, Ecco, Nike, dan Adidas.

5. Socks. Di toko-toko golf banyak ditawarkan kaos kaki golf dengan berbagai merk yang populer di dunia ‘pergolepan’, harganya juga ya gitu deh, mahal. Buat gue sih selama kaos kaki yang lo gunakan berbahan katun cukup tebal dan tingginya pas (semata kaki), itu udah cukup layak.

6. Sunblock. Hehe. Ini sih versi gue aja ya. Daripada gosong bro, minimal dipake lah di leher belakang, telinga bagian luar, lengan (jika loe pake ga pake hand sleeve), dan kaki jika lo menggunakan celana pendek.

7. Golf Pants. Gue lupa buat ngefoto celana buat main golf. Yang membedakan celana golf dengan celana biasa adalah bahannya, dimana mayoritas berbahan sintetis dingin dan kadang tersedia fitur penyimpan tee. Selain itu, adalah coraknya yang menjadi pembeda, dimana yang paling populer adalah bemotif kotak-kotak. Tapi, saat ini yang trendi adalah motif polos dengan warna-warna pastel, ya itu biru, pink, oranye, sampe putih.

Fyi, celana golf ini harganya lebih mahal dari golf shirt. Buat gue sih, yang jelas pakai aja celana yang nyaman. Baik berbahan sintetis maupun katun, baik celana panjang maupun celana pendek.

Merk golf pants populer: Adidas dan Nike.

#Special Pake Telor:
GOLF TRIVIA!!!

– Ketika memasuki green dan melakukan putting, lepaskan golf clove loe supaya sentuhan tangan pada grip putter lebih sensitif demi meningkatkan akurasi dan menguatkan feeling.

– Ketika memasuki green janganlah berisik. Usahakan untuk tetap diam, mulai dari lawan hendak melakukan putting, sampai dengan bola berhenti atau masuk hole. Respect your opponent #1.

– Ketika memasuki green janganlah melintas pada jalur putting lawan-lawan loe, lebih-lebih dengan menggosok-gosokkan sepatu. Ini adalah aksi yang provokatif. Respect your opponent #2.

Omsotong at Merapi G C

Pokoknya di permainan golf semua hal baik datang kok untuk loe.

“Banyak mukul, badan sehat.
Dikit mukul, hati senang!”

Kok bisa begitu? Nanti gue jelasin..

Itu dulu aja deh untuk Bab ini :)
Gue hutang banyak ya penjelasan sama loe, wahai Young Padawan, tentang cara memukul, grip, detail peraturan, pengenalan lapangan, dan tarif (member, green fee dan caddy tip)…. Buat postingan-postingan berikutnya deh ya.

Gue mau kerja dulu nih……..
……..sambil main golf.

Bye!

Posted in THOUGHTS | Tagged , , , , , , , , , , , | 4 Comments

PARADISE ON EARTH: RAJA AMPAT

Wayag Peak 1

“Paradise on Earth!”

Yak, itu yang terlintas di kepala gue ketika mendengar “Raja Ampat”. Dan itu juga yang menjadi alasan untuk membuka tahun 2014 di Raja Ampat. Yeah!

Banyak orang menyebut Raja Ampat sebagai “Hidden Paradise”, gue sih lebih suka menyebut ini sebagai “Paradise on Earth” aja. Simpel, sesungguhnya Raja Ampat sudah sangat terkenal di dunia, ga perlu ada yang di-hidden-hidden lagi. :)

TRANSIT MAKASSAR

Lirik indah ‘Paradise’ milik Coldplay mengiringi penerbangan gue ke Makassar dari Jakarta. Tiba pukul 08.30 WITA di Sultan Hasanuddin, Makassar. Gue seharusnya melanjutkan penerbangan ke Sorong pukul 10:00 WITA menumpang Merpati MZ806. Namun, unschedule breakdown yang dialami maskapai BUMN tersebut membuat penerbangan ini dibatalkan. Penerbangan ke Sorong pun diganti menggunakan Express Air esok dini harinya pukul 03:00 WITA.

Makassar Jan 2014

Ada sekitar 14 jam lagi sebelum penerbangan ke Sorong, gue pun dijemput dan diajak jalan-jalan di kota Makassar oleh rekan seperusahaan yang berada di sana. Mulai dari icon Makassar yaitu Pantai Losari dan Benteng Fort Rotterdam, sampai menikmati kuliner sore bernama Pisang Epe yang dilanjutkan Pallubasa Serigala dengan telur 1/2 matang yang jossss banget. Tips makan enak dan kenyang di Makassar: pesen dua! Haha. Setelah itu kami kongkow di Kampung Popsa sambil menghabiskan waktu hingga tengah malam.

ENTRANCE RAJA AMPAT

Begitu mendarat di Bandara DEO Sorong, langsung dilanjut perjalanan darat selama 20 menit menuju pelabuhan perikanan di Sorong, tempat yang menjadi gerbang masuk kami ke Kabupaten Raja Ampat saat itu. Untuk memasuki wilayah Kabupaten Raja Ampat, wisatawan wajib membayar Pin Entrance Raja Ampat senilai total Rp250K. Pin ini berlaku selama setahun.

Pin Raja Ampat

Gue saranin kalo ngetrip ke Raja Ampat itu rame-rame. Karena meskipun lo berangkat hanya dengan grup kecil semisal 4 orang, lo tetep butuh menyewa boat gede berkapasitas minimal 10 orang untuk ‘menebas’ ombak super deras. Unless, lo ga nemu temen ngetrip, ato cukup tajir untuk membeli fasilitas itu, lakuin aja.. Ehehhe, becanda. Bermodal engine 2 x 250 HP, ini boat yang kami gunakan selama 4 hari ke depan.

Boat 2 x 250pk

Mioskun, sebuah pulau kecil yang hanya dihuni 1 keluarga ini menjadi pembuka trip Raja Ampat. Adapun papan bertuliskan tarif itu jangan terlalu dianggap serius ;)

Mioskun

Perjalanan menyusuri ‘halaman depan’ surga Indonesia ini diiringi decak kagum tanpa henti. Mulai dari menikmati indahnya terumbu karang di Friwen Bonda, menyusuri bongkahan bukit karst mini di Teluk Kabui, hingga bersantai di Pasir timbul Bianci.

WAYAG

Hari pertama kami bermalam di pulau Wayag. Menghabiskan sore hingga terbenamnya matahari. Selama gue liburan ke manapun, mana ada Maghrib-maghrib masih berendem di pantai sampe gelap. Tapi kalo di Pulau Wayag, hal ini sangat sayang kalo dilewatkan.

Sunset di Wayag

Beberapa minggu sebelumnya, pulau Wayag sempat dilarang dikunjungi, begitupun area bukit karst yang tidak boleh dimasuki. Masih terpampang jelas palang blokir dari Masyarakat Suku Kawe yang belum dicopot. Konon, masyarakat tidak terima atas tak jelasnya pembagian hak atas fee Pin Entrance dari pemerintah.

Pulau Wayag

Di Pulau Wayag, lo wajib berhati-hatilah saat snorkeling atau bermain di pesisir pantai, hindari kontak fisik dengan hiu yang sering seliweran. Hiu berjenis Blacktip Reef ini memang sering berkunjung secara berkelompok ke pesisir hingga sedekat ini.

Hiu Blacktip di Pantai Wayag

MENDAKI BUKIT KARST

Kepulauan Wayag adalah ‘maincourse’ dari segambreng menu maknyus yang disajikan Raja Ampat. Memasuki kepulauan Wayag lo bakal terpukau laut biru dengan topping bukit-bukit karst berbagai ukuran yang selalu berada di sekeliling lo. Seakan berada di serpihan surga yang jatuh ke Bumi.

Di bawah Puncak Wayag I

Inilah view dari puncak Wayag I:

Puncak Wayag I

Kalo ini dari Wayag II:

Puncak Wayag II

Butuh usaha maha berat buat menikmati saripati alam bernama Wayag. Mendaki bukit karst yang dipenuhi karang-karang tajam, sejauh +/- 100 meter dengan kemiringan hingga 80 derajat. Gue sengaja ga nampilin foto perjalanannya supaya lo surprise ketika menjalani sendiri. Selain itu, karena susah ambil fotonya juga sih sambil manjat, bahaya juga :)

Wayag I dan II

YENWAUPNOR

Malam kedua kami menginap di Yenwaupnor, sebuah kampung wisata di daerah Arborek. Penginapan yang dikelola oleh Ibu Maria dan suaminya ini menawarkan suasana pantai yang nyaman. Selain itu, ikan goreng bikinan Ibu Maria ini ga ada tandingannya, enak banget!

Yenwaupnor

Gue bukan orang yang suka bangun pagi, apalagi pas lagi liburan. Cuma ya surise secantik ini masa iya mau dilewatkan? Ini ceritanya pohon Natal keluarga Ibu Maria yang belum sempat dicabut. Unik dan lucu, hiasannya dari kerang-kerang gitu :)

IMG_4970

LET’S GO DEEP

Hari ke-3, pagi-pagi kami bertolak menuju Pulau Mensoar, tepatnya ke Raja Ampat Dive Lodge, sebuah dive center sekaligus resort. Selama perjalanan ke sana, kami sempatkan snorkeling di Sawindarek, menikmati kultur Papua di Arborek dan Yenbuba.

Tarif menyelam dengan Raja Ampat Dive Lodge cukup menguras kocek. 1 titik penyelaman dihargai USD 60, dive gear (exclude dive comp) USD 35/hari, dive comp USD 15/hari, dan kalo belum punya snorkle-mask-fins harganya USD 9/hari. Lumayan kan? :)

Raja Ampat Dive Lodge

Prinsip gue sih, “nyari duit udah pusing bro, kalo ngabisinnya harus mikir juga, kapan hepinya?” :)

Hari itu gue menyelam di 2 titik, yaitu Manta Traffic dan Sardine Reef. Manta Traffic ini semacam tempat lalu-lintasnya Manta Ray. Dalam waktu 30 menit, ada kali sampe 10 kali Manta Ray melewati tempat ini. Di tempat ini mereka membersihkan diri.  Jadi gue nyelem di toilet mereka dong..? :))

IMG_5198

Ketika lo menyelam: “Take nothing but photos, leave nothing but bubbles.”

Manta Ray ini cool banget, ‘melayang’ dengan anggun di lautan. Manta paling gede yang gue liat panjangnya mungkin hingga 6 meter. Kalo aja Aladdin itu anaknya Poseidon, pasti doi lebih milih naik Manta daripada karpet terbangnya :)

selfnote: Manta ini sifatnya pemalu, jadi kalo mau liat jangan deket-deket, apalagi menyentuh badannya.

PULANG

Pagi di pagi ke-4 judulnya perjalanan perjalanan pulang. Sebelum menuju Sorong kembali, kami sempatkan mampir di Pulau Koh, sebuah pulau cantik dengan hamparan pasir putih yang timbul di tengah hamparan air laut super bening. Disempatkan pula bersantai di Pulau Waiwo yang pantainya dipenuhi ikan-ikan. Seorang anak kecil yang memancing di sini tidak perlu umpan, cukup mata kail dalam waktu singkat ada ikan yang tertangkap.

IMG_5508s

Pengalaman mengunjungi Raja Ampat super duper awesome… Lo harus sempat ke Raja Ampat seenggaknya sekali seumur hidup lo. Witness something magnificent before you die.

Dan ini menjadi pengalaman membanggakan buat gue. ‘Sense of belonging’ atas Raja Ampat kental terasa, hal ini yang ga bakal lo rasain ketika mengunjungi tempat-tempat keren lainnya di luar Nusantara. Luar biasa, Tuhan menitipkan Raja Ampat kepada Indonesia. Bersyukurlah.

IMG_5182

Gue yakin, Tuhan ‘merilis’ beberapa ‘teaser’ Surga Ilahi di bumi. Dan bagi gue, Raja Ampat adalah ‘teaser’ paling nyata yang membuat fantasi kita semakin tidak bisa menjangkau keindahan surga yang sesungguhnya. Hal ini seharusnya memicu kita untuk selalu berbuat baik, rajin beribadah, dan terus berdoa agar mendapatkan sebenar-benarnya surga milik-Nya.

IMG_4641

Tidak secara harfiah. Tapi memang travelers selalu mencari dan mendatangi ‘surga-surga’ di dunia.

Posted in TRAVELING | Tagged , , , , , | 2 Comments

HOLIDAY RUSH: 1 MINGGU, 4 KOTA (part 2)

Awalnya ga ada rencana traveling di Sumatera Barat, tujuan gue setelah Medan adalah pulang kampung ke Bengkulu. Karena ga ada transportasi udara langsung, maka transitlah gue di sini. Jujur, 25 tahun gue hidup di Indonesia, 15 tahun di antaranya tinggal di Bengkulu, belum sekalipun gue berkunjung ke propinsi yang menjadi batas langsung dari tanah kelahiran gue. Bolehlah satu/dua hari gue habiskan di Ranah Minang.

TRANSIT PADANG

Landed!! Mendaratlah gue di Bandara Minangkabau. Tempat ini mirip RM Sederhana, tapi parkirannya pesawat semua gitu.

IMG_1276gambar dipinjam dari: sini.

Tempat yang gue tuju adalah Bukittinggi, kota kelahiran Bung Hatta ini dikenal menyimpan ambience luar biasa sebagai kota perbukitan. Ditambah pula, tempat yang saat Agresi Militer Belanda II sempat menjadi Ibukota Indonesia ini juga dikenal memiliki rasa asli berbagai masakan Padang yang terkenal di penjuru Bumi.

Perjalanan dari Bandara Minangkabau ada 2 opsi: naik travel atau taksi. Biaya travel sekitar Rp50-60ribuan, mobilnya Avanza atau APV, plat hitam, berangkatnya nunggu penuh. Mata yang masih lelah setelah penerbangan super pagi dari Medan membuat gue memilih taksi. Ongkos normalnya Rp222ribu, cuma karena lagi sepi penumpang dan jumlah supir taksi yang nawarin banyak, jadilah gue deal pada pemberi penawaran termurah, ehehe. Berangkatlah gue Bukittinggi dengan sebuah taksi sedan plat kuning bermodal Rp150ribu sahaja.

Di tengah perjalanan, gue mampir di RM Kiambang Raya untuk sarapan. Katupek Gulai Paku menjadi menu sarapan andalan di sana. Tanaman paku yang diolah dengan gulai santan lalu disajikan dengan ketupat dan kerupuk merah ini gurih sekali rasanya. Dimakan pagi-pagi ditemani teh hangat dan pemandangan persawahan yang bikin hati adem. ‘Zen’ banget gitulah rasanya. Sarapan *mewah ini bisa loe beli dengan Rp11ribu aja. *ket: mepet sawah.

IMG_2562Setelah ± 1 jam perjalanan gue pun sampai di Bukittinggi. Begitu turun dari taksi, hawa dingin khas pegunungan langsung menggigit kulit, padahal sudah mau siang. Gue menginap di Royal Denai View Hotel. Lokasinya persis di seberang Benteng Fort De Kock.
mungkin karena nyamannya kamar dan hawanya nenangin banget, siang itu gue tertidur hingga sore.

Menjelang maghrib gue berjalan melewati Kampung Cina menuju pelataran Jam Gadang. Jam Gadang yang merupakan landmark kota Bukittinggi ini menyimpan fakta unik. Angka empat pada ejaan Romawi harusnya ditulis ‘IV’, namun pada jam di bangunan yang merupakan hadiah Ratu Belanda ini ditulis menjadi ‘IIII’. Dulu saat penjajahan Belanda, atap Jam Gadang berbentuk patung ayam jantan, dan ketika Jepang datang diubah menjadi kelenteng sebelum akhirnya pribumi menggantinya dengan atap gaya khas Minangkabau.

IMG_2643

Pelataran Jam Gadang itu pusatnya kudapan malam di Bukittinggi. Rasanya enak, khas, dan harganya murah. Ada Opak Bumbu Sate (Rp3ribu), Pisang Kapik (Rp3ribu), Sate Padang tentunya (Rp12ribu), dan favorit gue: Pisang Panggang Basantan (Rp6ribu). Sayang, saat itu gue gagal menemukan Puluik Durian.

IMG_2661

Sembari mengeksplorasi kuliner Bukittinggi, randomly gue menaiki odong-odong. Bermodal Rp5ribu rupiah odong-odong ini ternyata membawa lo dan anak-anak kecil lainnya mengitari spot-spot icon wisata di Bukittinggi selama ± 40 menit. Lumayan kan? tak terduga.

IMG_2641

Pagi hari adalah saat dimana Bukittinggi membuktikan dirinya sebagai salah satu Surganya Indonesia. Ambience-nya superb banget! Bukittinggi sightseeing pagi ini gue lakukan sambil jogging. Diawali dengan mengunjungi Benteng Fort De Kock, lalu ke Jam Gadang menikmati Teh Talua, dilanjutkan memasuki Lobang Jepang, dan turun ke lembah menikmati indahnya Ngarai Sianok. Super banget men! Kawan-kawan pelari maraton kelas menengah Jakarta perlu mencoba lintasan ini, ehehe. Jogging pagi ditutup dengan menikmati sarapan Pical Sikai :9

IMG_2798

Bukittinggi ini adalah pusatnya menu asli masakan Padang yang tersebar di penjuru bumi. Belum lengkap rasanya ke Bukittinggi kalau belum menikmati makanan-makanan ini:

IMG_2717

  1. GULAI ITIAK LADO MUDO. Lokasinya di Ngarai Sianok. Tekstur daging itiknya lembut banget, dicubut dikit dagingnya lepas semua. Tapi paling pol sambel ijonya itu men… sensasi pedes-asinnya bikin lidah terkulai lemas. Foodgasm.
  2. NASI KAPAU. Lokasinya di Pasar Lereng, dekat pelataran Jam Gadang. Menunya banyak banget, dari ayam, ikan, rendang, dan semua bagian tubuh sapi kayaknya ada, ehehe. Rasanya dominan asam dan pedas selayaknya masakan minang, namun lebih asin dari biasanya.
  3. AYAM POP RM Family Benteng. Lokasinya di dekat pintu masuk Benteng Fort De Kock. Rasa ayam pop-nya sama seperti menu sejenis di RM Padang kebanyakan. Yang bikin beda, tempat ini dipercaya sebagai ‘pioneer’ menu Ayam Pop yang populer itu. Jadi, gue mencicipi Ayam Pop dari tempat masakan ini dilahirkan, gue merasakan di sini sejarah meeen :D

Karena judulnya cuma transit, sore di hari ke-2 di Bukittinggi gue putuskan untuk memulai perjalanan ke kota kelahiran, Bengkulu.

Bukittinggi adalah kota yang sejuk dan tentram. Tempat paling bener versi gue buat menikmati masa pensiun nanti.

PULANG KAMPUNG: BENGKULU

Perjalanan dari Bukittinggi ke Bengkulu gue lalui selama ± 11 jam. Perjalanan darat yang cukup jauh namun menarik karena melewati Danau Singkarak yang terkenal itu.

Sesampainya di Bengkulu, gue langsung disambut si VW 1200 ’74  yang sudah kinclong menawan.

IMG_2786

Mesin waktu, berada di dalamnya bikin inget waktu kecil sering malu tiap kali diantar ke sekolah olehnya. Pasti minta diturunin jauh-jauh karena suka jadi bahan ejekan bocah lainnya. Sekarang, justru ga mau jauh-jauh dari si Putih ini. Kini, doi bersama ‘sanak saudara serahimnya’ mendirikan komunitas bernama VOLKSWAGEN CLUB BENCOOLEN. *Bencoolen: Nama Bengkulu di masa panjajahan Belanda.

Gue pun semakin antusias berada di rumah karena saat itu juga gue melihat ijo-ijo seger terparkir di garasi, bukan cendol kaskus tentunya. Adalah VW Safari ’76 yang diakuisisi Bokap dari salah satu anggota klub VW-nya itu. Bokap sumringah banget, karena hari itu adalah hari dimana si ijo mendengungkan kembali suara mesinnya setelah ‘astral’ berbulan-bulan.

IMG_2785

Bengkulu ini kota yang menurut gue cukup selaaaaw.. Suana santai terasa dari sekolahan sampai kantor-kantor pemerintahan, #eh. Suasana santai ini jelas terbawa karena Bengkulu dipagari pantai barat Sumatera yang disebut Pantai Panjang. Mungkin itu sebab-musababnya orang Bengkulu santainya berkepanjangan sampe sekarang. Btw, Pantai Panjang ini cakep lho, endless…

IMG_4465

Gue habiskan sisa fieldbreak gue di rumah. Hari-hari dimana gue bisa santai menikmati suasana dan masakan rumahan. Meledek Bokap & Nyokap yang mulai ubanan. Juga nasihat-nasihat mereka yang gue rindukan. Berangkat bareng Bokap ke Jumatan, juga berjamaah bertiga saat Maghriban.

“Bokap & Nyokap love to feel needed. So, letting them take care of me is how I’m taking care of them :)”

rumah bengkulu sPokoknya, semewah-mewahnya hotel bintang lima, ga akan bisa mengalahkan ‘kemewahan’ yang ditawarkan rumah ini buat gue. Mungkin itulah yang dirasakan Ian Antono saat menciptakan lagu ‘Rumah Kita’. *betah*

Rasanya cukup deh jalan-jalan berjudul Holiday Rush kali ini. Saatnya kembali mengumpulkan pundi-pundi demi kelangsungan hidup anak-istri (nanti) :D

Posted in TRAVELING | Tagged , , , , , , , | 1 Comment

HOLIDAY RUSH: 1 MINGGU, 4 KOTA (part 1)

IMG_2050Dats o wrap! Saatnya backpacking lagi..!

Field break yang ke-3 tahun ini diisi liburan yang kalo gue bilang sih, serba terburu-buru. Mulai dari Kuala Lumpur, Medan, Padang, hingga Bengkulu, semua dilewati dalam waktu seminggu. Kok bisa? Haha.

Sebenernya destinasi utama di field break kali ini adalah kota Medan. Namun, berhubung gue berposisi di Berau, gue pun bersiasat bagaimana cara termurah menuju kotanya ayang Raline Shah ini. Ada 2 pilihan rute: 1) Berau-Balikpapan-Medan via Jakarta; 2) Berau-Balikpapan-Medan via KL. Setelah dirinci semua pilihan penerbangan, rute no.2 bisa lebih murah hingga Rp600ribuan cing! Lumayaan… Nginep sehari deh kalo gitu :))

TRANSIT KL

Penerbangan Balikpapan-KL menggunakan Air Asia berlangsung mengerikan. Begitu terbang dari Sepinggan Balikpapan, cuaca memburuk. Pesawat mengalami turbulensi hebat. Dan ini berlangsung di sisa 50% jarak tempuh lagi. Ketika mengambil posisi landing, tiba2 pesawat menukik hebat balik ke arah atas. Semua penumpang kaget, takut bukan main, semua berdo’a. Setelah 30 menit muter-muter di udara dengan turbulensi bertubi-tubi, akhirnya pesawat kembali mengambil posisi landing. Berhasil! Gue pun mendarat di LCCT KL.

LCCT (Low Cost Carrier Terminal) Kuala Lumpur ini adalah bandara khusus maskapai-maskapai budget seperti Air Asia, Tiger Airways, dan lainnya. Begitu turun suasanya ga enak banget, rasanya kaya di gudang kargo. Dari LCCT gue menuju KL Sentral menggunakan SkyBus seharga RM 9, di busnya ada kru dan awak Air Asia juga.

Di KL Sentral gue membeli tiket KL Hop-On Hop-Off Bus seharga RM 42 (Rp130ribuan). Bis ‘double decker’ ini membawa loe keliling KL dengan 40-an tourism site, 23 bus stop yang berlaku selama 1 x 24 jam. Karena konsepnya hop-on hop-off, loe mau turun dimana? berapa lama? Atur sendiri.

IMG_2224Puas singgah di beberapa landmark kota seperti KLCC dan KL Tower, gue pun turun di Bukit Bintang. Di daerah ini ada yang namanya Jalan Alor, tempat yang kata mereka adalah ‘surga kuliner asia Tenggara’. Tampilannya mengingatkan gue akan ‘Benhil saat Ramadhan’, ehehe. Bedanya, tempat ini didominasi Chinese dan Thai food, jadi pastiin yang loe order adalah masakan halal.

IMG_2091

Malamnya gue menginap di Grid-9 Hotel, lokasinya di Maharajalela (dekat Chinatown). Semacam budget hotel untuk para traveler kere kaya gue, hehe. Gue membayar RM 30 (Rp100ribuan) untuk bermalam di bunker berkapasitas 4 orang. Tempatnya bersih, AC dingin, toilet di dalem, good wi-fi, fasilitas di common room-nya pun oke punya. Minusnya: ga dapet sarapan dan harus bawa gembok sendiri.

IMG_2192

Esok paginya gue meluncur kembali ke KL Sentral. Abis dari sana mau kemana bebas aja deh. KL Sentral ini semacam ‘hub’ yang menghubungkan berbagai rute dan moda transportasi dari/ke Kuala Lumpur. Perjalanan ke KL Sentral dari hotel di Maharajalela cukup menaiki monorail terdekat dengan tiket seharga RM 1.6 (Rp 3ribuan).

Nyari sarapan emang enaknya di dekat KL Sentral, pilihan banyak, enak-enak, dan harganya murah. Gue mampir di Restoran Nasi Kandar JMT Maju, menu Roti Prata dan Teh Tarik yang lezat ini dihargai RM 3 (Rp 10ribuan) sahaja.

IMG_2114

Karena perbangan ke Medan masih sore, gue memutuskan ke Batu Caves dulu, kebetulan belum pernah ke sana. Gue naik KTM Komuter meluncur ke Batu Caves selama 45 menit. Ongkosnya RM 1 (Rp3ribuan) aja cing! Hihihi. Batu Caves, situs wisata relijius umat Hindhu ini memiliki daya tarik luar biasa. Patung-patung raksasa menyambut kedatangan tamu-tamunya. Patung-patung segede Patlabor ini adalah Dewa Kera Hanoman (hijau) dan Dewa Muragan (emas). Gratis, tidak ditemukan loket penjualan tiket di sana.

IMG_3706

Pesona sesungguhnya dari Batu Caves berada 100 meter di atas sana, gue pun melewati 272 anak tangga yang berhasil bikin paha nyeri. Dari sana terdapat beberapa chamber dengan kuil masing-masing. Untuk mencapai kuil terbesar kedua, loe harus kembali menaiki 30 anak tangga.

Cukup rasanya menikmati pemandangan dari atas Batu Caves. Matahari yang semakin menyengat membuat gue buru-buru kembali ke stasiun KTM, membeli tiket pulang seharga RM 2 (Rp6ribuan) menuju KL Sentral. Dari KL Sentral gue langsung meluncur ke LCCT.

Tibalah gue di LCCT, ini akhir dari #TransitKL. Saatnya berpindah dari Kuala Lumpur ke Kualanamu.

MEDAN BIZ TRIP

Kenapa Medan Biz Trip? Karena memang tujuan utama gue dateng ke Medan adalah untuk menginisiasi sebuah bisnis kuliner bersama sohib lama di Medan sana, Karya Nugraha.

Menggunakan Air Asia, yang alhamdulilah penerbangan kali ini mulus, gue tiba di Kualanamu International Airport (KNO). Bandara yang baru saja menggantikan Polonia Medan ini GUEDE BANGET. Dengan desain interior yang menawan, signage modern, dan fasilitas kelas satu, menjadikan KNO sebagai bandara terbaik di Indonesia versi on the spot, eh versi gue!

IMG_2554Karya menjemput gue, menggunakan Innova miliknya kami meluncur selama 1 jam menuju pusat kota Medan. Di sana kami langsung mampir di Nasi Goreng Pandu untuk makan malam. Gue menginap di Swiss-Belinn Medan memanfaatkan diskon spesial di Master Card :))

Esok paginya Karya dan gue langsung mengelilingi habis kota Medan, mencari lokasi-lokasi terbaik untuk membuka gerai kuliner kami. Kota Medan memang tiada duanya untuk urusan kuliner. Adalah “RM SIPIROK” menjadi tujuan kami. Sop Tulang, Daging Bakar, dan Jus Martabe (Markisa Terong Belanda) menjadi pemuas perut di siang yang panas itu.

IMG_2374

RM Sipirok ini cepet banget servisnya. Baru pesen, ga nyampe 3 menit pesenan komplit. Rasanya? Maknyus banget! Dan owner-nya langsung yg datang ke meja-meja tamu utk menghitung tagihan, sambil ngobrol basa-basi segar. Konon, pegawai RM Sipirok ini tiap hari ke bank utk tukerin duit. Itulah kenapa uang kembalianya ga pernah ada yg lecek. Jadi mikir, bener juga ya.. Kadang konsumen kurang sreg klo dikasih uang kembalian yang lecek, robek, apalagi lembab. Insight nih!

Malemnya kami melanjtkan wisata kuliner ke “Mie Aceh Titi Bobrok“. Di sini, loe wajib mencicipi Mie Aceh Goreng dengan kepiting. Super enak rasanya.. Mantaff!

IMG_2301

Selesai dari sana kami nongkrong di “Kedai Kopi Ulee Kareng & Gayo” sambil me-review business plan dan menentukan lokasi mana saja yang menjadi tempat dimulainya usaha ini. Ngobrol-ngobrol berlangsung selama 2 jam lebih, menghabiskan 2 cangkir kopi saring yang enak banget. Let’s call it a day, siapin tenaga karena besok ke Danau Toba.

Perjalanan darat dari Medan menuju Danau Toba via Siantar memakan waktu sekitar 4 jam. Ketika di Tebing Tinggi kami mampir ke salah satu penjual Lemang Batok. Lemang, Ketan yang dibakar di dalam bambu, dimakan dengan dicocol srikaya, Mantapsss benar rasanya..

Setibanya di Parapat – Danau Toba, cuaca memburuk. Tapi ya.. hujan dan kabut bukan perkara lagi, sudah jauh-jauh kesini masa ga nyebrang ke Samosir? Penyeberangan reguler ke Pulau Samosir cuma ada Sabtu-Minggu, ongkos Rp25K/orang. Sayang, sekarang hari Jumat. Akhirnya carter kapal segede gini. Lumayan merogoh kocek hingga Rp400K untuk perjalan ke Samosir PP.

IMG_2484

Sesampainya di Pulau Samosir, kami disambut (kalau tidak salah namanya) Pak Horison Sidabutar. Pak Horison mengajak kami ke Desa Tomok, melihat peninggalan suku Batak Toba dengan Kuburan Batu tempat dimakamkannya raja-raja Batak Toba terdahulu, serta Kursi Batu yang menjadi tempat peradilan dilaksanakan pada zaman kerajaan dahulu kala.

IMG_2492Di sana juga loe bisa menemukan rumah-rumah adat asli Batak Toba sambil menonton pertunjukan Sigale-Gale. Khusus pertunjukan Sigale-gale, dipatok biaya Rp80K untuk setiap kali pertunjukannya. Jika serius dimainkan, konon bonekanya akan kemasukan roh Sigale-Gale. Jadi ceritanya, Sigale-gale adalah anak seorang raja yang terbunuh saat perang. Raja yang berduka memerintahkan seorang perajin membuat boneka untuk menggantikan anaknya.

Danau Toba dan Pulau Samosir, tempat yg dulu cuma jadi bahan ujian pelajaran IPS dan menu RPUL, akhirnya terkunjungi!

Di tengah perjalanan pulang menuju Medan, tepatnya di daerah Asahan, kami mampir ke “RM Beringin Indah“. Tempat ini menjual berbagai macam sajian khas burung goreng. Burung Ruak-Ruak Goreng, Sambal Teri Medan, dan Minuman Cap Badak Khas Siantar menjadi pemanja perut sore itu.

IMG_2518Sebelum menuju hotel kami sempat nongkrong dulu di Merdeka Walk menikmati Pancake Duren. Setelah itu masih dilanjut menikmati Sate Memeng dan membungkus Sate Padang Al Fresco. Buncit, buncit dehh… Mau gimana lagi, Medan memang surganya wisata kuliner, waktu yang pendek harus dimaksimalkan :))

Semalam saat di Merdeka Walk gue mengintip ke sebuah bangunan baru nan modern yang ternyata adalah stasiun kereta api. Dari sana keretanya bisa langsung menuju Bandara Kualanamu, turunnya di dalem bandara pula. Akhirnya gue memutuskan untuk mencoba moda transportasi kebanggaan warga Medan tersebut. Kebetulan pesawat yang akan membawa gue ke Padang berangkat pagi banget, pukul 06:00 WIB.

IMG_2530

City Railink Station, diklaim sebagai pemilik kereta api bandara yang pertama di Indonesia. Moda transportasi bebas hambatan menuju bandara ini mempunyai terminal yang modern dan bersih, operasional penjualan tiket yang profesional. Bahkan, sampai ditentukan nomor gerbong dan tempat duduknya. Sayang, ongkosnya masih cukup mahal, Rp80K. Perjalanan menuju bandara ditempuh dalam waktu kurang dari 40 menit. Destinasi selanjutnya adalah kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Medan adalah surganya kuliner Indonesia, itulah alasan membuka ‘lapak’ di sana.

continue reading >> HOLIDAY RUSH: 1 MINGGU, 4 KOTA (part 2)

Posted in TRAVELING | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | 3 Comments

TIBA-TIBA LOMBOK!

IMG_0741

Gue adalah orang sibuk, sibuk mengisi liburan di saat yang lain berkutat dengan kerjaan.

Di kerjaan gue sekarang, ada yang namanya fieldbreak selama 2 minggu setiap 2,5 bulan. Akan selalu bertemu masa dimana orang-orang bekerja, dan gue liburan. Saat bosen gue biasanya ke mall, nonton film yang belum ditonton, makan-makanan yang belum dicoba.. Sendirian. Saking kesepiannya, gue sampe menculik orang. Beberapa kali gue menjemput temen dari kantor mereka di jam makan siang, dikembaliin menjelang jam pulang ;)

Masa-masa seperti ini men-trigger gue untuk lebih kreatif menghabiskan waktu libur, kalo ga mau bengang-bengong sendiri di rumah.

Pada fieldbreak Juni lalu, di tengah aktifitas liburan yang gitu-gitu aja, gue terpikir untuk pergi ngeliat tempat-tempat baru, tempat-tempat yang belum pernah gue datangi. Dengan budget seadanya, tempat yang belum pernah dikunjungi dan terpikir untuk didatangi adalah Makassar-Manado, Medan-Aceh, Vietnam-Myanmar, dan Lombok.

Lewat  bincang-bincang dengan seorang teman yang lagi ngebet banget ke Lombok, tapi ga bisa. Gue pun berpikir keras. Meski ga sempat sholat istikharah, petunjuk dari-Nya pun datang. Gue memutuskan untuk bikin dia iri, ehehe. Berangkat lah gue ke Lombok.

Jakarta – Lombok

Perjalanan Jakarta ke Lombok ada banyak pilihan, paling mudah dan terjangkau ya via udara. Maskapainya banyak, mulai dari Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya Air, Lion Air dan lain-lain. Karena gue suka bermain dengan adrenalin, dipilihlah Lion Air (ngerti kan maksudnya?). Harga tiket Rp550K adalah termurah saat itu (ternyata ini alasan utamanya). Penerbangannya langsung dari Jakarta (CGK) ke Lombok Praya (LOP), tanpa transit di Bali. Bandar Udara Internasional Lombok adalah bandara baru yang berada di Lombok Tengah. Modern dan megah.

IMG_0440

Mataram

Tujuan pertama gue adalah daerah Cakra, pusat kota Mataram. Transportasi ke sana gue pilih yang paling murah, Damri. Tiketnya Rp25K saja. Rute resmi Damri adalah Bandara-Terminal Mandalika. Tapi, gue ga disarankan turun di sana, banyak preman katanya. Akhirnya gue turun di pool Damri (daerah Sweda), perjalanan sekitar 1 jam. Dari sana gue keluarin Rp10rb untuk naik ojeg sampai ke Cakra.

Karena ‘jalan-jalan spontan’, gue melengos tanpa booking penginapan lebih awal. Untungnya, di daerah Cakra ada banyak pilihan. Salah satu yang populer di kalangan backpacker adalah Oka Homestay. Tapi karena penuh, gue akhirnya pindah ke ‘adiknya’, Oka Guest House. It costs you Rp150K/night include breakfast. Nyaman-asri-ramah, tiga kata yang pas untuk menggambarkan tempat ini.

IMG_0450Siang pertama di Lombok gue dijemput Denis, dulunya teman sekantor gue yang sekarang menetap dan bikin usaha di Lombok. Makan siang pertama di Lombok adalah Nasi Balap Puyung ‘Inaq Esun’. Denis mengajak gue ke daerah asal terciptanya makanan ini, yaitu di Puyung, Lombok Tengah. Tempatnya agak susah dihapal karena signage yang kecil plus lokasinya yang masuk ke dalam gang-gang perumahan. Nasi Balap Puyung adalah nasi putih dengan kacang kedelai goreng, taburan udang kering, dan suwiran ayam super duper pedas! Rasanya mantap luar biasa, ga cukup dua gelas es jeruk untuk memadamkan api di mulut gue.

IMG_0453

Merasa ruang di perut masih ada, kami langsung meluncur balik ke Mataram untuk mencicipi kuliner lainnya. Adalah Sate Pusut dan Sate Rembiga. Sate Pusut ini bentuknya mirip sate Lilit a’la Bali, terbuat dari kelapa, tidak pakai daging tapi gurih luar bisa. Nikmat. Nah, kalau Sate Rembiga ini mirip Sate Maranggi, terbuat dari daging dan dimasak dengan bumbu khas sehingga menciptakan rasa pedas-manis yang bikin mulut lo ga bisa bergenti ngunyah. Ini favorit gue!

IMG_0455Sore menjelang tenggelamnya matahari, kami menyisir pantai Senggigi. Senggigi adalah pusat liburan dan hiburan di Mataram, sekaligus situs wisata paling terkenal dan menjadi daerah wajib untuk dikunjungi di Lombok. Tempat terbaik untuk menikmati keindahan Senggigi adalah Malimbu Sunset Point 1 dan 2. Dari tempat ini lo bisa menikmati keindahan Senggigi dari ketinggian. Dari atas, pantai ini terlihat seperti perpaduan teluk dan tanjung yang dipagari tebing tinggi, nyiur pohon kelapa, dan cottage-cottage indah. Asli, keren!

IMG_0472

Gili Trawangan

Gili Trawangan menjadi tujuan di hari kedua. Dari Mataram, ada dua jalur untuk menuju Pelabuhan Bangsal Pemenang (pintu masuk ke Gili). Pertama, via Senggigi, waktu tempuh 90 menit. Kedua, via Gunung Pusut, waktu tempuh 60 menit. Di Gunung Pusut, lo akan menemukan banyak sekali sahabat kecil kita yang kongkow di pinggir jalan. Tips: bawalah kacang sebagai modal bercengkrama :)

IMG_0482Sampailah gue di Pelabuhan Bangsal Pemenang. Info aja, lo mesti siapin kocek sekitar Rp30K untuk naik Cidomo (Cikar Dokar Mobil – semacam andong dengan rota mobil) dari parkiran ke area pelabuhan. Area pelabuhan hanya untuk mobil/motor yang menjemput. Jujur, gue ga tau cara mereka bedainnya gimana. Gue ambil rute ke Gili Trawangan, tiketnya Rp12K. Selain GIli Trawangan, juga tersedia rute ke Gili Air dan Gili Meno. Btw, di Gili itu 80% isinya bule, makanya beginian aja yang dikirim setiap hari ga akan bisa disebut ‘lifetime supply’, karena abis terus:

IMG_0659

Perjalanan menggunakan boat memakan waktu sekitar 20menit. Begitu sampai di Gili Trawangan, banyak sekali orang lokal yang menawarkan penginapan murah. Harganya variatif, mulai dari Rp50 – Rp200K/night, fasilitasnya pun beragam. Karena ga buru-buru juga, gue putuskan untuk berkeliling dulu. Btw, di sini tidak diizinkan menggunakan kendaraan bermotor, bukan hanya untuk turis, warga lokal pun diberlakukan peraturan yang sama. Jadi, moda transportasinya kalo engga sepeda, ya Cidomo.

Gue berkililing Gili Trawangan menggunakan sepeda yang disewa seharga Rp50K/hari, cari penginapan yang sesuai selera dan affordable. Setelah 2 jam mengayuh sepeda mengelilingi Gili Trawangan, akhirnya pilihan jatuh pada Le Petit. Selain strategis, tempat ini sangat nyaman dan unik karena semua furniturnya hampir 100% berbahan kayu. Harganya lumayan menguras kantong sih, Rp300K/night.

Tapi yaa.. nyari duit aja udah pake mikir, masa ngabisinnya mesti pusing juga? Ehehe.

IMG_0576Bagi wisatawan asing, Gili Trawangan adalah pantainya pesta. Suasana ‘party all night long’ memang terasa meski masih siang. Tapi, tidak sembarang bar bisa menyelenggarakan party setiap malam. Mereka mengadakannya secara bergiliran.

Nirvana…. Begitu yang gue rasakan saat menyisiri pantai-pantai di Gili Trawangan. Bersih, jernih, dan cuakep buanget! Gili Trawangan menawarkan kehidupan pantai yang santai namun tetap mempesona. Tempat berjemur, nongkrong, dan kongkow di pinggir pantainya ga ada yang jelek.  Dan bule-bulenya? Damn good…

IMG_1854IMG_1861

Menyelam! Niat ini udah muncul sejak lama. Dengan berbagai pertimbangan, gue akhirnya memutuskan untuk mengambil lisenesi menyelam SSI Open Water. Adalah Gili Divers, sebuah dive shop yang dijalankan orang-orang Swedia, menjadi tempat gue belajar nyelem. Btw, hampir semua dive shop di Gili dijalankan oleh orang asing. Di Gili Divers saat itu, cuma gue orang Indonesia yang jadi peserta courses. Dengan Rp3juta lo mendapat in bungalow training (karena memang ga ada kelasnya), in pool training, dan 6 titik menyelam selama 3 hari.. Terpancingnya adrenalin, membuat rasa takut berganti penasaran, rasa yang terobati oleh sensasi bebas bernapas dalam air seperti ikan, dan mengagumi kehidupan bawah laut yang mencengangkan. Luar biasa!

IMG_0982IMG_0573Desa Sade

Gue sangat bersyukur punya teman di Lombok, yang bersedia mengantar kemana-mana, kalo engga? wah bakalan repot. Jarak dari satu tempat keren, ke tempat keren lainnya di Lombok ga ada yang dekat. Hari ini, gue dan Denis yang kali mengajak pacarnya, Merin, berencana mengunjungi Desa Sade. Jazz hitam Denis meluncur cepat ke Rembitan, Lombok Tengah, tempat di mana Desa Sade berada. Banyak guide yang biasa menemani turis di sana. Biasanya mereka memakai kain hitam.

Begitu masuk, kami langsung disuguhi suasana asli perkampungan pribumi. Rumah-rumah yang di desa ini disebut ‘Bale’, dibangun dengan rangka bambu, berdindingkan ayaman bambu, beratapkan ijuk, dan beralaskan tanah.  Suku Sasak, penghuni Desa Sade, bisa dibilang adalah cerminan masyarakat asli Lombok. Banyak hal menarik dari kehidupan mereka, seperti Islam Waktu Telu (sholat hanya 3 waktu), tradisi ‘menculik’ calon istri, sampai mengepel lantai dengan kotoran kerbau. Yak, yang terakhir gue ditawari untuk mencoba, tentu aja gue menolak. Gile aje lo megang-megang kotoran asing :D

imageMasyarakatnya banyak bekerja sebagai petani dan pengrajin tenun. Kain-kain cantik hasil tenunan yang menggunakan alat tradisional itu dijual dengan kisaran harga Rp150K-Rp350K. Harga yang pantas jika elo melihat proses membuatnya. Seorang Ibu yang baik hati menawari Merin untuk mencoba alat tenunnya. Setelah puas foto-foto akhirnya kami keluar dari Desa Sade dengan memberikan si guide selembar I Gusti Ngurah Rai sebagai tanda terima kasih.

Makan Makan Makan!

Ayam Taliwang! menu utama masakan khas Lombok ini menjadi pilihan di siang itu. Ada banyak tempat yang menyajikan masakan ini, sampe bingung milihnya. Gue pun melaporkan kebingungan ini ke @infolombok. Feedback terbanyak adalah Ayam Taliwang Irama, disusul Ayam Taliwang Pak Udin. Akhirnya Gue, Denis, dan Merin memilih nama pertama. Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung ini rasanya pedes-pedes nagih. Muka sampe penuh peluh menghabisi potongan besar hidangan ini. Tapi si Denis dan Merin nyantai aja ternyata, kaya makan gudeg. Gue yang lebay :|

IMG_0476

Malamnya gue masih penasaran dengan versi lain Ayam Taliwang. Akhirnya gue menuju RM Ayam Taliwang Pak Udin. Berbeda dengan Ayam Taliwang Irama yang dibakar, Ayam Taliwang Pak Udin ini digoreng. Rasanya? OKE PUNYA! TOP! Satu porsi ayamnya juga satu ekor, untuk satu orang. Hidangan pendampingnya selain Plecing Kangkung, adalah Beberuk. Beberuk ini semacam acar kali ya, rasanya asam, kurang cocok sama lidah gue.

IMG_0660

Tanjung Aan & Batu Payung

Berada di area Kuta, selatan Pulau Lombok, Tanjung Aan menawarkan keindahan sempurna sebuah pantai.

Pasirnya putih seperti gula, air laut super bening mengisi karang indahnya, bukit-bukit dan tebing tinggi memagarinya, langit biru menjadi payungnya.
Surgawi!

Ngomong-ngomong soal payung, di dekat Tanjung Aan ada sebuah batu besar berbentuk seperti payung, objek inilah yang disebut Batu Payung. Untuk menjangkaunya bisa dengan berjalan kaki, syaratnya harus saat laut surut. Ketika gue datang, laut sedang pasang, jadi harus menggunakan jasa perahu yang merogoh kocek sekitar selembar Soekarno-Hatta. Tapi, ini terbayar lunas ketika sampai di Batu Payung. Luar biasa! Foto di bawah ini sama sekali ga gue retouch, cuma dikolase aja supaya muat banyak. Gimana? Kebayang kan kerennya?

IMG_1860Hari semakin siang, semakin mendekati schedule terbang menuju Bali, destinasi selanjutnya dari ‘jalan-jalan spontan’ kali ini. Tiba saatnya gue harus meninggalkan Lombok. Adalah pengalaman super menyenangkan bisa mengunjungi pulau dengan banyak serpihan surga yang jatu di atasanya. Keinginan untuk datang kembali begitu kuat. Masih banyak spot yang pengin gue sambangi: Gili Nanggoe, Sekotong, Gunung Rinjani, Danau Segara, dan lain-lain.

Terakhir, super duper terima kasih banyak buat Denis dan Merin yang bikin liburan gue rame dan ga jadi turis cengok di Lombok. Btw, gue ke Lomboknya nunggu kiriman undangan dari kalian, ya? :)

IMG_0712! EXTRA
Tips Makan Murah di Gili Trawangan

Gili Trawangan menawarkan banyak sekali jenis makanan, dari western, asia, dan Indonesia tentunya. Paling asik ya barbeque seafood. Tapi, pelancong kantong bolong kaya gue tetep cari yang paling *makmur dong (*makan murah). Adalah Green Café tempat yang gue cari. Begitu datang, gue disambut banyak pilihan makanan. Dengan menggunakan teknologi touchscreen, telunjuk gue memencet-mencet kaca etalase menu makanan yang gue pengin, dan voila! tersajilah nasi campur di tangan Ibu kantinnya.  Ayam pedas, kering tempe, perkedel jagung, dan sayur patuk ini only cost you Rp20K, harga yang murah untuk Gili Trawangan.

IMG_0644Bosen juga ternyata makan a’la warteg mulu. Pengin juga rasanya gue makan makanan yang agak spesial di tempat yang keren, di pinggir pantai sambil minum yang seger-seger, dan nonton yang seger-seger juga.

Maklum, kelamaan di field bikin mata perlu ‘dikalibrasi’.

Kalau jeli, ada beberapa tempat kongkow di Gili Trawangan yang menawarkan PAHE (paket hemat). Gue memilih Waroeng Bule yang menurut gue tempatnya asik, view-nya keren, dan affordable price. Paket yang terdiri dari Pizza 8 slice dan sekaleng bir ini cuma seharga Rp40K. Wah asoy nih! Karena engga ‘minum’, gue memesan lemonade dan ternyata harganya Rp25K. Pizza-nya pun kebanyakan dan bir yang ga keminum gue bawa aja ke Gili Divers. Sigh. Malah gagal hemat gue… *sigh

Posted in TRAVELING | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

LABUAN CERMIN, AKUARIUM ALAM DI UJUNG HIDUNG KALIMANTAN

Idul Fitri tahun ini gue jalani di kota Tanjung Redeb, Berau. Kota yang dikenal sebagai pintu masuk Kepulauan Derawan yang terkenal itu. Libur dua hari cing! hmm.. jalan-jalan dong! Karena bosen ke Derawan *ditimpuk pembaca*, gue memutuskan untuk mengunjungi satu lagi spot unik bin keren yang ada di sekitar Tanjung Redeb. Namanya Labuan Cermin, spot wisata ini memang belum begitu terkenal di kalangan masyarakat awam Indonesia, karena belum pernah masuk daftar “7 Tempat blablabla Versi On the Spot” :p

Labuan cermin itu semacam laguna berlokasi di ‘ujung hidung’ Kalimantan. Rasa airnya tawar di permukaan dan asin di kedalaman. Jernihnya? Pooooollll!

Ujung hidung Kalimantan? Iya, kalo liat peta Kalimantan, kan bentuknya kaya muka orang tuh, nah posisinya itu di bagian hidung paling ujung :)

Tanjung Redeb – Desa Talisayan
Untuk mencapai Labuan Cermin amat disarankan menggunakan kendaraan roda empat. Bertolak dari Tanjung Redeb pukul 13.00 WITA, menggunakan Toyota Hilux kami sampai di Desa Talisayan pada pukul 16:30. Spot menarik di Desa Talisayan adalah sebuah perkampungan kecil nelayan yang berlokasi di pertemuan antara sungai dan pantai.

Image

Desa Talisayan – Biduk-Biduk
Perjalanan kami lanjutkan dengan melewati jalan perkebunan kelapa sawit. Kondisi jalannya buruk. Saking buruknya, tidak ada kesempatan bagi kami untuk tertidur di mobil selama 2 jam perjalanan melintasinya *yang nyetir seneng*. Setelahnya, jalan mulus sekali sampai akhirnya kami memasuki desa Biduk-Biduk pada pukul 19:30. Biduk-Biduk adalah sebuah desa pinggir pantai yang menjadi pintu masuk ke Labuan Cermin. Karena letaknya di pinggir pantai, maka banyak sekali tanaman bakau dan pohon kelapa yang menghisasi kanan-kiri jalan, ciamik! Ini fotonya saat siang hari:

Image
Biduk-Biduk – Labuan Cermin
Penginapan Mayang Sari, itulah tempat yang direkomendasikan oleh mereka yang sudah ke sini. Tarifnya Rp160K/malam, fasilitas kamar double bed, AC, TV, kamar mandi, dan sarapan. Ada sebuah spot memancing menarik di Biduk-Biduk, namanya Teluk Sulaiman, konon gampang dapat ikan kalau memancing malam hari. Tapi, karena badan sudah rindu berbaring lurus kamipun beristirahat sampai akhirnya bangun pukul 06:00 WITA. Selamat pagi Biduk-Biduk :)
Image

Perjalanan dari penginapan ke sebuah pelabuhan kecil tempat menyeberang membutuhkan waktu 10 menit menggunakan mobil. Untuk mencapai Labuan Cermin harus menggunakan perahu motor berkapasitas 12 orang. Tiketnya murah aja, Rp10K/kepala. Kata penjual tiketnya, “Tempat ini biasanya sepi sekali pengunjungnya. Tapi, Alhamdulillah hari ini banyak yang datang”. *ikut bersyukur*.

Image

Cukup 10 menit kamipun sampai di Labuan Cermin. Turun dari perahu kami menempuh perjalanan setapak seperti sedang hiking. Jalan yang dilewati sangat licin, disarankan tidak menggunakan sandal jepit. Setelah 3 menit berjalan kami terdiam dan terpaku melihat keindahan alam di depan mata. Ya Tuhan, sungguh luar biasa ciptaan-Mu…

Image

Dari jauh airnya biru ocean, dari dekat bening luar biasa. Dingin, brrrr.. Bayangkan sebuah akuarium raksasa dengan batu hiasan khasnya, dikelilingi miniatur hutan rimbun nan teduh, lalu diisi air Aqua hasil sulingan terbaik. AWESOME! Sayang sekali ga ada bukit atau spot tinggi di sekitarnya untuk ambil foto dari atas.

Aktifitas yang dilakukan di sana? Berenang!! Dua hal yang gue sesali: Pertama, ga bawa wet-suit, sumpah airnya dingin pol. Kedua, ga bawa google/mask, bikin kurang puas saat nyelem-nyelem lucu. Ohiya, di sini juga disediakan penyewaan ban dalem, harganya Rp15K untuk dipake sepuasnya.

IMG_1769Jernihnya air Labuan Cermin memang super duper! Ditambah warna batu-batu yang beragam bikin tempat ini layaknya ‘akuarium alam’.  Penggambaran lebih jelas coba gue tunjukkan dengan foto di bawah, batunya terlihat seperti di luar permukaan air, padahal tenggelam.

Image

Fotonya sama sekali ga di-retouch. Kebayang kan?? Rasanya seperti berada di serpihan surga yang terbawa Adam-Hawa saat dibuang ke bumi.

Setelah makan siang dan dan istirahat sejenak kami pulang ke Tanjung Redeb, meninggalkan Labuan Cermin, Akuarium Alam di Ujung Hidung Kalimantan.

Posted in TRAVELING | Tagged , , | 2 Comments

Gile Nih!

Ahoooy…!
*bersihin sarang laba-laba di dashboard blog*

Gile nih, lama banget ga posting-posting di mari.
Mundur setahun lima bulan ke belakang, perjalanan hidup gue sungguh gile.
Sekalinya ada waktu, ga ada ide.
Sekalinya ada ide, ga ada waktu.
Sekalinya ada ide dan waktu, ga ada tenaga.
Sekalinya ada waktu, ide, dan tenaga, ga ada kamu! #lho

Gile nih!

Pokoknya minggu ini harus ada kamu! #eh, maksudnya harus ada postingan lagi.

Itu sudah.

Posted in Uncategorized | 3 Comments

#KODE SEKODE-KODENYA

#uhuk! #eaaa :))

Posted in KOMIK | Tagged , , | Leave a comment

2011: PAUS, HIU, DAN LUMBA-LUMBA

Awal 2011 adalah masa dimana gue berusaha keluar dari hutan belantara. Empat tahun lebih terjebak di dalamnya, gue belajar banyak hal. Hal-hal yang membekali gue dalam perjalanan menuju lautan. Lautan yang menjadi sumber penghidupan. Persis di akhir bulan Maret 2011, gue berhasil lolos dari hutan tersebut, sampailah gue di pesisir pantai.

Dari pesisir pantai gue menatap lautan luas yang selama ini hanya mengawang di pikiran gue. Sempat beberapa kali gue melempar bebatuan sambil berucap: “gue harus mulai dari mana?”. Tak perlu berpikir terlalu lama, gue menceburkan diri ke pantai dan mulai berjalan. Gue bersyukur, ombak saat itu cenderung rendah dan relatif tak menghalangi langkah gue.

Gue berjalan hingga air laut setinggi kepala, lalu berenang dan menyelam. Saat itu, hewan-hewan laut mulai terlihat. Demi menarik perhatian mereka, segala cara gue lakukan. Berbekal bebatuan yang gue kantongi di pesisir, gue lempari mereka. Beberapa dari mereka tampaknya merespon lemparan gue. Gue pun menyapa. Beberapa dari mereka mulai mendatangi gue. Interaksi dengan makhluk-makhluk laut pun mulai intens gue lakukan.

Dari semua yang ada di sana, tampak seekor lumba-lumba muda bermanuver dengan cantiknya. Gue terpukau, bercengkrama dengan makhluk seperti itu adalah impian gue ketika masih di hutan. Berusaha menarik perhatiannya. Gue lempar dia dengan batu terakhir di saku gue. Ternyata, sang lumba-lumba merespon, member sinyal bahwa gue dipersilahkan bermain bersama.

Mengikuti gerakannya yang indah, membuat gue banyak belajar tentang filosofi mengarungi lautan. Bersama lumba-lumba, gue mencoba mempercantik lautan. Bersama lumba-lumba, hari-hari gue selalu menyenangkan. Dengan sesekali melompati permukaan lautan, gue diajak melihat jauh ke depan. Kekaguman gue pada lumba-lumba benar-benar luar biasa.

Setelah tiga bulan gue menikmati kebersamaan dengan lumba-lumba, datanglah hiu dan paus menghampiri gue. Masing-masing mereka merasa bahwa lemparan batu gue beberapa bulan yg lalu dulu mengenai mereka. Rupanya setelah sekian lama, mereka baru menyadarinya *sigh*. Hiu berkata bahwa bahwa lemparan gue cukup kuat untuk membuktikan kekuatan gue mengimbangi pergerakan dirinya. Sementara paus, dengan tubuhnya yang besar ia menjanjikan kehidupan aman dan nyaman andai gue mengarungi lautan bersamanya. Gue tergiur. Namun, sang paus melontarkan beberapa syarat yang akan membuat gue sulit lepas darinya. Karena di satu sisi, gue masih sangat ingin bersama lumba-lumba.

Akhirnya gue memutuskan untuk lebih memilih berinteraksi lebih lama dengan sang hiu. Hiu memang tidak sebesar paus, namun hiu yang satu ini benar-benar cerdas lagi buas. Tubuh sang hiu berkembang begitu cepat, gerakannya sungguh dinamis. Ia pun menjadi salah satu hewan paling ‘tampak’ di lautan saat itu. Hiu menawari gue untuk ikut bersamanya. Gue tergoda. Siapapun pasti tergoda.

Namun, bagaimana bisa gue meninggalkan lumba-lumba yang begitu menyenangkan? Gue sudah berada dalam zona nyaman bersama lumba-lumba. Dilema. Gue dihadapkan pada sebuah janji kala di hutan. Janji-janji yang memaksa gue untuk berpaling. Meski begitu, berbeda dengan paus, hiu cukup ‘jantan’ untuk membebaskan gue kapanpun gue mau meninggalkannya. Meminta izin pada sang lumba-lumba, dan ia mengabulkannya. Gue pergi. Melangkah ke depan dengan kepala yang selalu menoleh ke belakang.

Gue akan sangat merindukan lumba-lumba. Merindukan tawa bahagia bersamanya. Merindukan berbagai manuver briliannya. Merindukan matanya yang menatap jauh ke depan. Merindukan gerakan siripnya yang mem-boosting semangat gue. Merindukan mulutnya yang tak pernah berhenti makan.

Membuka tahun 2012, nyaris 100% perhatian gue tertuju untuk mengimbangi pergerakan sang hiu. Meski begitu, sesekali gue mencuri pandang pada lumba-lumba. Mencuri waktu untuk berinteraksi dengannya. Harapan untuk kembali pada lumba-lumba kembali membuncah. Gue sangat berharap bisa kembali suatu saat nanti.

 

Posted in Uncategorized | 5 Comments